JAKARTA - Di tengah sunyi pegunungan Aceh yang terisolasi banjir, suara lapar terdengar lebih keras dari gemuruh air sungai. Di sanalah Rahmansyah memulai perjalanannya—bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk 500 jiwa di Desa Arul Gading yang dua hari terakhir hanya berharap hari esok membawa makanan.

“Kami dua hari tak makan, Pak… Banyak yang kelaparan,” kata Rahmansyah dengan suara yang nyaris patah ketika tiba di posko Baguna PDI Perjuangan di Bireuen.

Ia dan tiga pemuda lain berjalan sejak matahari baru terbit. Di desanya, beras menghilang dari pasar. Stok habis, dan jika pun ada, harganya tak lagi masuk akal. Setiap menit yang berlalu berarti satu anak semakin lemas, satu keluarga semakin dekat dengan putus asa.

Perjalanan mereka mengiris hati: menyeberangi sungai dengan sampan kecil, menggantung di tali seling di atas arus deras, berjalan di jalur yang ambles, dan sesekali berhenti hanya untuk memastikan diri masih kuat melanjutkan langkah. Delapan jam perjalanan yang biasanya cukup ditempuh satu setengah jam—itulah jarak yang harus mereka bayar untuk bertahan hidup.

“Kami pakai uang masjid buat biaya ke sini. Hanya itu cara kami agar bisa dapat beras,” ucapnya.

Desa Arul Gading kini gelap gulita. Listrik padam, sinyal hilang, dan malam diterangi lampu teplok yang asapnya menusuk mata. Anak-anak menangis bukan karena takut, tetapi karena perut kosong. Orang tua menghabiskan malam dengan menunggu—menunggu bantuan yang tak kunjung datang karena akses jalan benar-benar terputus. 

Rahmansyah sebenarnya tidak tahu apakah posko Baguna memiliki beras atau tidak. Ia hanya memegang satu nomor kontak yang disebarkan relawan. Tetapi baginya, lebih baik mengambil risiko daripada kembali dengan tangan kosong dan menyaksikan warga dusunnya menyerah pada kelaparan.

Ketika akhirnya tiba, bantuan langsung digerakkan. DPD PDIP Aceh menurunkan beras, susu bayi, telur, dan makanan cepat saji untuk 500 jiwa yang menanti. Di tengah kisah pilu itu, setidaknya ada satu titik terang: seseorang datang meminta bantuan—dan tidak kembali dengan tangan kosong. 

“Kami mengirim bantuan ke daerah yang bisa diakses, dan mencari cara untuk wilayah yang tidak bisa ditembus,” ujar Ketua DPD PDIP Aceh, Jamaluddin Idham.

Namun cerita Rahmansyah bukan satu-satunya. Banyak desa di Aceh Tengah, Tamiang, Bener Meriah, dan Bireuen masih terisolasi. Bantuan hanya bisa dikirim lewat udara, sementara warga menggantungkan harapan pada sampan kecil atau jembatan darurat yang hanya terdiri dari seutas tali baja.

Di beberapa desa, pakaian hanyut bersama banjir, menyisakan sehelai baju yang menempel di badan. Di tempat lain, suara lapar masih terdengar setiap malam.

Rahmansyah membawa pulang beras hari itu—tapi lebih dari itu, ia membawa pulang secercah keyakinan bahwa desanya belum sepenuhnya dilupakan. ***