
SELATPANJANG - Akhir-akhir ini, bongkar material base di Kecamatan Tebingtinggi Barat sepertinya kurang tepat dan mengancam jembatan yang sudah berusia tua, Jembatan Panglima Sampul. Kondisi ini kalau dibiarkan terus menerus, bisa menyebabkan kerusakan jembatan penghubung desa dengan kota.
Seperti yang terpantau belum lama ini, material baik batu bronjong maupun base c untuk pembangunan di Desa Mekong, dibongkar di dalam Sungai Perumbi. Itu artinya, pengangkutan material batu dan base ini harus melewati Jembatan Panglima Sampul untuk sampai ke Desa Mekong.
Akibat aktivitas pengangkutan ini, beberapa titik di Jalan Makhroji Desa Mekong menjadi rusak. Kerusakan ini karena jalan tidak kuat menahan beban dari kendaraan besar dan muatannya. Kemudian, pihak rekanan membongkar material dekat Selatrengit (tak jauh dari lokasi peningkatan Jalan Alai-Mekong, red).
Lalu, ada pula pekerjaan untuk di daerah kota, malah dibongkar di pelabuhan lain (bukan pelabuhan dalam Sungia Perumbi, red). Material base itu dibongkar di pelabuhan yang letaknya takjauh dari Kantor Camat Tebingtinggi Barat.
Untuk mengangkut material ini ke arah kota, kendaraan berat dengan muatan material base C kembali melintasi jembatan Panglima Sampul yang dibangun belasan tahun silam itu. Kondisi ini dikhawatirkan bisa merusak jembatan sehingga akan mengganggu aktivitas ribuan warga.
Menurut Rustam, Sekretaris PK KNPI Tebingtinggi Barat, ketika kendaraan pengangkut material base itu melintas, jembatan Panglima Sampul terasa bergoyang. "Truk pembawa material base melewati jembatan. Jembatan menjadi goyang, kita sangat khawatir jembatan rusak bang," kata Rustam kepada GoRiau.
Rustam merasa sangat aneh. Dimana, saat ini ada dua pelabuhan bongkar muat material baik pasir maupun batu. Yaitu, di dalam Sungai Perumbi dan satu pelabuhan lain yang dibangun tak jauh dari Kantor Camat Tebingtinggi Barat. Harusnya, kata Rustam, andai material untuk dibawa ke arah kota, bongkar muatnya di dekat Sungai Perumbi saja. Kemudian, andai material di bawa ke arah Desa Alai, Mekong, Alai Selatan, atau Batangmalas, bongkar di pelabuhan belakang kantor Camat Tebingtinggi Barat, sehingga pengangkutan material tidak melewati jembatan tua tanpa perawatan itu.
"Ini agak aneh rasanya, material peningkatan Jalan Alai-Mekong dibongkar di Sungai Perumbi, sementara material base untuk daerah kota dibongkar di pelabuhan yang satunya. Jadi, pengangkutan tetap melewati jembatan," ungkap Rustam lagi.
Menanggapi hal ini, Anggota Legislatif Kepulauan Meranti Dapil Tebingtinggi Barat DR Cand M Tartib MSi meminta pihak Dishubkominfo lebih konsisten dalam memberi izin bongkar dan penggunaan jalur darat ketika mengangkut material. Dewan tidak ingin ketika membangun, malah membuat rusak yang sudah ada.
"Kita tidak menghambat pembangunan," kata Tartib.
"Kita juga minta pihak Dishub konsisten. Buat kesepakatan penangkutan material di sini cocoknya pakai kendaraan apa. Kemudian tolong ukur berapa lagi kekuatan Jembatan Panglima Sampul itu, jangan dipaksanakan untuk melewati material. Jangan sampai membangun, tapi merusak yang sudah ada," tambah Tartib. ***#Semua Berita Kep Meranti, Klik di Sini