JAKARTA - Pemerintah Iran melontarkan peringatan keras kepada Inggris terkait keputusan negara tersebut yang memberikan izin kepada militer Amerika Serikat (AS) untuk menggunakan pangkalan udara miliknya. Fasilitas ini diketahui digunakan Washington untuk melancarkan serangan ke wilayah Teheran.

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pihak mana pun yang memfasilitasi agresi militer terhadap kedaulatan negaranya harus bersiap menghadapi dampak serius dari pilihan politik tersebut.

"Iran berkomitmen penuh untuk terus mempertahankan kedaulatan, integritas wilayah, kepentingan nasional, dan keamanan dalam menghadapi agresi. Setiap negara yang dengan cara apa pun menjadi pihak dalam agresi militer terhadap Iran akan bertanggung jawab atas konsekuensi dari keputusannya," tegas Kemlu Iran dalam keterangan resminya, Kamis (23/7/2026).

Pelanggaran Piagam PBB

Langkah Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham yang memberikan lampu hijau kepada Washington menuai kekecewaan mendalam dari Teheran. Berdasarkan laporan Bloomberg, AS memperoleh akses pangkalan udara untuk melancarkan apa yang mereka sebut sebagai serangan defensif.

Pemberian akses fasilitas militer ini dinilai telah menabrak prinsip-prinsip dasar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pemerintah Iran memandang tindakan London bukan lagi sekadar dukungan logistik biasa, melainkan wujud keterlibatan langsung dalam konfrontasi militer di kawasan Timur Tengah.

Gencatan Senjata Berakhir

Ketegangan yang kembali memuncak ini menandai berakhirnya kesepakatan damai antara Iran dan AS. Kedua negara sebelumnya baru saja menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 18 Juni guna meredam konflik terbuka yang sempat meletus sejak 28 Februari lalu.

Sayangnya, upaya perdamaian tersebut tidak bertahan lama. Memasuki 8 Juli, gelombang gempuran militer AS kembali menargetkan wilayah Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim bahwa aksi militer tersebut merupakan langkah balasan atas pergerakan Iran yang dianggap mengancam aktivitas kapal niaga di Selat Hormuz.

Merespons hal tersebut, Iran langsung meluncurkan serangan balasan dengan menargetkan sejumlah pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah. Eskalasi konflik semakin memburuk setelah Presiden AS, Donald Trump secara terbuka mengumumkan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Teheran sudah tidak lagi berlaku.***