SUASANA duka menyelimuti kalangan pecinta hewan. Di Hari Gajah Sedunia yang berlangsung Selasa, 12 Agustus, seekor anak gajah pergi meninggalkan jagad raya ini.

Bayi gajah yang masih berusia empat bulan ini mati di tempat perawatan di Pusat Pelatihan Gajah, Sebanga, Duri.

Dua hari sebelumya, gajah yang sempat diberi nama Yuni, ditemukan terlantar di kawasan pemukiman warga Desa Gunung Sari, Kecamatan Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar. Warga mengerubungi dan ada yang hendak memberi makan. Namun, karena belum terbiasa berintegrasi dengan manusia, Yuni tampak diam saja.

Petugas Wildlife Rescue Unit (WRU) sempat mencoba mempertemukannya kembali dengan induknya, namun upaya itu gagal. Agar bisa mendapat perawatan yang lebih baik, Yuni pun dipindahkan ke Sebanga.

Sayang, di kawasan pelatihan gajah ini pun Yuni masih tetap tidak bergairah. Tak mau diberi makan. Sehingga akhirnya sehari kemudian dia ditemukan sudah tidak bernyawa lagi.

Kematian Yuni langsung tersebar ke seantero dunia. Apalagi pada saat itu diperingati sebagai Hari Gajah Sedunia.

Ironisnya, rasa duka yang demikian besar terasa jauh berbeda dengan saat ada orang yang mati akibat dibunuh gajah. Isak tangis hanya dari keluarga korban dan warga sekitarnya. Berbagai pihak dan aparat terkait kelihatan senyap-senyap saja. Jangankan memberi bantuan, berkunjung ke rumah duka saja jarang mereka lakukan.

Gajah, harimau, dan hewan lain, sebenarnya jarang mau berkonflik dengan manusia. Namun, karena habitatnya telah rusak, mereka terpaksa datang mencari makanan ke lingkungan manusia.

Bahkan kehidupan gajah lebih spesifik lagi. Binatang ini mempunyai daerah edar yang setiap saat dilalaui. Gajah tetap tak peduli dan akan terus berjalan di daerah edarnya meskipun telah menjadi kebun sawit dan peruntukan lainnya.

Interaksi antara hewan dan manusia memang kerap menimbulkan terjadinya konflik. Hewan ingin mencari makan di perkampungan karena habitat mereka di hutan telah dirusak manusia.

Meskipun sudah agak terlambat, rasanya perlu diapresiasi upaya yang dilakukan pemerintah dalam mengembalikan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) sebagai habitat aneka satwa. Para petani sawit yang telah terlanjur menanam sawit di sana, agar bersedia untuk mengikuti relokasi yang dijanjikan pemerintah.

Mungkin telah banyak investasi yang dikeluarkan untuk menjadikannya sebagai kebun sawit. Namun, pemerintah juga akan mengeluarkan biaya yang tak sedikit dalam mengembalikan TNTN sebagai kawasan habitat hewan. ***

* Irwan E. Siregar adalah wartawan senior bermastautin di Pekanbaru, Riau.