
TELUKKUANTAN - Hampir dua bulan berada di tahun 2016. Namun, harapan petani Kuantan Singingi (Kuansing), Riau akan adanya perbaikan kehidupan tak juga menunjukkan tanda-tanda. Sebab, harga jual hasil perkebunan seperti karet masih murah.
Kondisi ini dikeluhkan seluruh warga Kuansing, khususnya yang menggantungkan hidup dari menyadap karet.
"Murahnya harga karet sudah dimulai sejak pertengahan 2013 silam dan sampai saat ini belum juga naik," ujar Milut, salah seorang petani karet di Kuansing kepada GoRiau.com, Senin (15/2/2016) siang di Telukkuantan.
Dikatakannya, kebun karet tidak lagi memberikan jaminan untuk perbaikan ekonomi. Sebab, untuk menutupi kebutuhan sehari-hari sudah sangat sulit.
"Hasil penjualan karet tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk memenuhi kebutuhan sekunder," ucap Milut.
Ia dan ribuan petani karet di Kuansing hanya bisa berharap agar harga karet kembali naik. Sehingga bisa memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat.
"Kita hanya berharap, harganya mencapai diatas Rp10 ribu per Kg-nya. Kalau sudah segitu, lumayan bisa menutupi kebutuhan sehari-hari," harap Milut.
Sementara itu, Wariman yang memiliki kebun karet mengaku kesulitan dalam mencari tenaga penyadap.
"Biasanya rebutan orang minta menyadap di kebun saya. Kalau sekarang, sangat sulit. Orang sudah tidak mau lagi menyadap karet," tuturnya.
Menurutnya, warga Kuansing mulai meninggalkan pekerjaan sebagai penyadap karet sejak harga karet murah.
"Saya lihat, tidak hanya kebun saya saja yang tak ada tukang sadapnya. Tapi, kebun-kebun lain juga sudah lama ditinggalkan," tutur Wariman.***