
PEKANBARU - Upaya modifikasi cuaca (TMC) yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terus dimaksimalkan di Provinsi Riau. Sampai sekarang tercatat sudah 54.400 kilogram garam ditabur untuk memicu hujan.
Dengan adanya hujan, diharapkan agar api yang membakar lahan dan hutan tidak meluas serta bisa segera padam. Dampak lainnya, daratan menjadi lembab. Itu jadi salah satu upaya, selain pemadaman api secara langsung oleh tim darat dan udara.
Menurut data terkini, upaya penyemaian garam di awan potensial masih dilakukan. Setidaknya sudah 54.400 kilogram bahan semai (garam, red) ditabur di atas langit Riau. Dengan dibantu pergerakan angin, diharapkan hujan bisa turun sesuai area yang terbakar.
"Sudah 40 sortie (penerbangan, red) dengan total 40 kilogram dengan pesawat Cassa PK-PCT. Sekarang pesawat ini diperbantukan ke Sumut," kata kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau, Edwar Sanger.
Meski diperbantukan ke daerah lain, Riau masih punya 1 pesawat modifikasi cuaca lainnya, yakni Cassa 212 A-2107. Pesawat tersebut masih dioperasikan, dan Sabtu (17/9/2016) kemarin sudah menyemai 800 kilogram garam di Kampar dan Rohul.
"Total sudah 18 sortie (penerbangan, red) hingga kemarin dengan angka keseluruhan sudah 14.400 kilogram. Kita masih ada cadangan NaCl (garam, red) sebanyak 21.080 kilogram lagi," yakin Edwar.
Hasil rincian dari Satgas terpadu di posko, ada sekitar 3.734,01 ribu hektar lahan yang sudah terbakar di Riau sepanjang Januari hingga sekarang. Polisi bahkan menetapkan 69 orang, plus dua perusahaan sebagai tersangka pembakar lahan.
Tersangka paling banyak diringkus oleh Polres Dumai dengan total 18 orang, disusul Bengkalis 15 orang tersangka serta Rohil 12 tersangka. Memang tiga kabupaten tersebut jadi wilayah terparah dilanda kebakaran lahan dan hutan di 2016 ini. ***