PEKANBARU, GORIAU.COM - Sungguh malang nasib So, wanita berusia 18 tahun, warga Kabupaten Kampar. Setelah diperkosa kepala desa dan preman, dia dijual pula ke lokalisasi untuk memuaskan nafsu para lelaki 'hidung belang', sehingga dia hamil. Bahkan saat hamil pun, ia juga dipaksa melayani pria 'hidung belang'.
So dijual seorang mucikari bernama Erni ke sebuah lokalisasi di Bukit Mas, Desa Sukaramai, Kecamatan Tapung Hulu, Kabupaten Kampar, Riau. Setelah laporannya ke salah satu Polsek di Kampar tidak ditanggapi, So melaporkan kasus ini ke Kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Riau."Saat saya sedang hamil, saya dikurung di dalam sebuah ruangan. Dan saya tetap dipaksa melayani tamu-tamu," ujar So, Jumat (7/1/2014), seperti dikutif Goriau.com dari Merdeka.com.Tanpa bisa berbuat apa-apa, So terpaksa melayani setiap pria yang datang untuk berhubungan badan. Selang delapan bulan, seorang pria bernama David, berhasil melarikan korban dari lokalisasi Bukit Mas dan mengantarkan ke pihak keluarganya.Korban datang ke P2TP2A Riau, didampingi keluarganya. Kakak kandung korban menceritakan apa yang pernah dialami adiknya selama 7 bulan disekap di lokalisasi. Kakak korban menyebutkan, kasus ini bermula Juni 2013 lalu. Saat itu ada tetangganya, Erni, mengajak korban menemaninya belanja dari Kampar ke Pekanbaru."Rupanya adik saya diajak karaoke sama Erni. Di dalam ruangan karaoke ternyata sudah ada Pak Kades. Di dalam ruangan karaoke disuruh minum hingga mabuk tak sadarkan diri. Begitu sadar, sudah berada di kamar yang ternyata di lokalisasi di Kampar," kata kakak korban.Sedangkan korban menuturkan, selama dikurung di kamar lokalisasi, dia harus meladeni nafsu bejat Pak Kades. "Kalau saya tak melayaninya, saya ditampar. Setelah puas beberapa bulan lamanya, saya diserahkan sama centeng yang jaga lokalisasi. Hingga saya hamil 7 bulan sekarang. Setelah Pak Kades dan centeng puas, saya disuruh melayani tamu yang datang," tutur korban, seperti dikutif Goriau.com dari Detikcom.Korban bisa menyelamatkan diri, setelah salah seorang tetangga di kampungnya, David, melihat dirinya di lokalisasi. Lantas David membantu korban lari. "Setelah saya bebas, saya pun melaporkan kasus ini ke kantor polisi. Tapi tak ada tanggapan. Makanya sekarang saya melapor ke sini," tutur korban sambil menangis.Kepala P2TP2A Provinsi Riau, Risdayati mengatakan pihaknya akan mempelajari terlebih dahulu atas laporan tersebut. "Ya kalau memang nantinya cukup bukti atas dugaan itu, kita akan berkoordinasi dengan pihak Polda Riau untuk mengusut tuntas kasus ini," ujar Risdayati. ***