BERITA mengejutkan datang dari kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Suska, Pekanbaru. Aparat keamanan menyeruduk tempat menimbah ilmu keagamaan tersebut, pagi hari sebelum perkuliahan dimulai.

Tanpa ba-bi-bu, mereka mengobok-obok sarana perkuliahan tempat di mana ustad kondang Abdul Somad pernah kuliah dan kemudian mengajar. Sasaran terutama ditujukan ke Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa.

Pegawai dan mahasiswa yang sudah berdatangan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Padahal saat itu situasi kampus dan luar kampus terasa adem-adem saja. Tak ada aksi demo mahasiswa yang menyebabkan aparat keamanan sampai harus memasuki kampus dengan kondisi sangat serius.

Tak lama kemudian seorang dari petugas berpakaian sipil itu berbicara agak keras: "Temuan. Segera amankan."

Orang-orang di sana semakin keheranan dan was-was. Siapa tahu ditemukan bom. Namun, kalau ada bahan peledak mengapa bukan petugas khusus penjinak bom yang dikerahkan?

Para petugas kemudian datang menyisir di bawah atap gedung tersebut. Dari sana ditemukan paket-paket terbungkus amplop. Jumlahnya banyak juga. Saat ditimbang, beratnya sampai 63 kilogram. Ternyata, semuanya berisi daun ganja kering. Astagfirullah.

Kasus ini terungkap berawal dari tertangkapnya dua pemuda ketika hendak mengirimkan ganja lewat sebuah perusahaan jasa pengiriman. Mereka mengaku pernah kuliah di perguruan tinggi Islami tersebut. Dari sanalah terbongkar kalau kampus ini mereka jadikan sebagai tempat menyimpan narkoba yang aman. Tidak menimbulkan kecurigaan.

"Bagi kampus Islami, ini bukan sekadar pelanggaran hukum. Tentunya ini menjadi luka moral," kata Suardi, seorang dosen di sana. Gedung yang seharusnya menjadi pusat ide dan kegiatan mahasiswa, lanjut pengajar mata kuliah jurnalistik itu, kini menjadi simbol kealpaan pengawasan dan lemahnya benteng moral. "Jangankan berkilo-kilo, selinting saja pun sudah sangat fatal bagi kampus seperti ini," tegasnya.

Bak kata pepatah: rambut sama hitam, tapi kelakuan bisa tidak sama. Begitu pula yang terjadi di sini. Memang masih banyak mahasiswa yang serius menimbah ilmu dan tetap menjaga moral. Sayang, terbongkarnya kasus ini turut mencoreng arang hitam di kening mereka.

Sebenarnya sebagian orangtua memilih menyekolahkan anak di tempat pendidikan agamanya cukup kuat. Namun, tak sedikit pula orangtua yang menyekolahkan anaknya yang memang bandel di sekolah agama. Tujuannya agar anaknya bisa menjadi baik.

Namun, ternyata metode pendidikan agama dan pendidikan moral tidak semuanya sama. Anak-anak bandel ini memang banyak mendapatkan ilmu agama. Namun, nyaris tanpa penggemblengan moral. Maka begitu tamat, tak sedikit di antara menjadi pemuka agama yang rusak moralnya.

Sudah menjadi rahasia umum kalau banyak orang jahat yang bekerja di instansi agama. Seperti yang kerap diberitakan, ada koruptor yang memakan uang zakat, uang anak yatim, dana haji. Bahkan beberapa waktu lalu ada yang tertangkap karena korupsi dana Quran.

Karena itu, sebaiknya didirikan juga sekolah moral, sehingga moral anakbangsa ini tidak akan semakin hancur total. ***

* Irwan E. Siregar adalah wartawan senior bermastautin di Pekanbaru, Riau