PEKANBARU, GORIAU.COM - Satrawan Melayu yang juga Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) H Tenas Effendy mengeluarkan isyarat larangan terhadap muda-mudi di wilayah itu untuk merayakan malam valentine, 14 Februari 2013.
"Sebaiknya muda-mudi di Riau tidak terlarut dalam momen hari berkasih sayang ini. Itu bukan kebiasaan yang baik," kata Tenas di Pekanbaru, Rabu (13/2/2014).
Menurut Tenas, 'budaya' valentine tidak ada dalam kebudayaan Melayu dan bahkan tidak mencirikan khas kebudayaan Melayu itu sendiri.
"Kasih sayang dalam Melayu itu berkepanjangan, mulai dari dalam perut ibu, sampai akhir hayat. Jadi tidak ada hari khusus itu tidak ada, makanya dalam melayu istilah hari kasih sayang itu tidak ada," katanya.
Budaya Melayu menurut dia merupakan budaya yang mengutamakan hidup secara bersama-sama, bertenggang rasa, bermasyarakat. Hal itu yang menjadi cermin dari rasa sayang, dan itu berlaku sampai akhir hayatnya," katanya lagi.
Dalam budaya melayu, demikian Tenas, hari kasih sayang itu berkelanjutan dan dihadaiahkan kepada semua kerabat dan saudara. "Kita hidup bukan berkasih sayang kepada sesama manusia saja, tapi juga dengan makhluk hidup lainnya dan lingkungan karena itu merupakan asas kebudayaan Melayu yang Islami. Konsep kasih sayang Melayu itu menyeluruh," katanya.
Menurut dia, di dalam berbudaya, tidak dianjurkan untuk mengikuti budaya orang lain yang akan membawa prilaku negatif.
Begitu juga dengan budaya Melayu yang menurut dia selalu menghargai setiap budaya-budaya yang ada dan berkembang. "Bagi orang Melayu tidak perlulah mengikuti hal-hal seperti itu, apalagi peristiwa itu dijadikan sebagai ajang untuk melakukan hal-hal yang di luar tatanan nilai. Namun kami menghargai setiap budaya orang, tapi bagi adat istiadat di Riau, tanamkanlah sikap kasih sayang mulai dari lahir hingga akhir hayatnya," katanya. (ant/mtc)