Rosi Atali melangkah dengan pasti menuju podium di Ruang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kuantan Singingi (Kuansing), Riau pada Rabu (29/11/2017) malam. Di hadapan majelis yang hadir, ia mulai membacakan pandangan umum dari Fraksi Perjuangan Hati Nurani Rakyat terkait Rancangan Anggaran Pendapat Belanja Daerah (APBD) 2018.

Saat itu, Rosi mengkritisi program-program Mursini – Halim yang tidak mengusung konsep keadilan dalam pembangunan. Salah satunya pada bidang infrastruktur, karena lima kecamatan terancam tidak mendapat pengaspalan jalan.

"Alhamdulillah, perjuangan kita membuahkan hasil. Dari 13 paket, menjadi 17 paket untuk pengaspalan jalan dan semua kecamatan dapat tahun 2018," ujar Rosi, awal April 2019 di Telukkuantan.

Itu salah satu bentuk perjuangan Rosi agar pembangunan yang dilakukan pemerintah merata. Ya, sejak duduk sebagai Anggota DPRD Kuansing pada tahun 2014, suaranya selalu nyaring dalam memperjuangkan hak-hak rakyat.

Ads
"Sebagai dewan, kami mengawasi program pemerintah. Jika belanja pegawai lebih besar daripada program kerakyatan, kami tak setuju. Sebaliknya, kami mendukung pemerintah jika programnya menguntungkan masyarakat," papar Rosi.

Rosi terjun ke dunia politik termotivasi oleh lingkungan sekitar, sebab ia melihat masih banyak kesenjangan sosial di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, ia ingin mengabdikan diri kepada masyarakat lewat jalur politik.

"Banyak cara untuk mengabdi kepada masyarakat dan politik adalah salah satunya. Saya sangat tertarik dengan politik, karena lewat panggung ini bisa menyampaikan ide untuk kemajuan daerah," ujar Rosi.

Selain termotivasi dari lingkungan, Rosi mengaku juga mendapat dorongan dari keluarga dan masyarakat untuk maju sebagai Calon Legislatif (Caleg) dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) pada Pemilihan Legislatif 2014 silam. Niatnya untuk maju tak lain adalah untuk pengabdian.

Ia berpandangan politik merupakan suatu cara untuk mengimplementasikan ide-ide dengan cepat, sebab duduk sebagai Anggota DPRD  bagian dari penentu kebijakan pembangunan.

Duduk di DPRD dan Dipercaya Sebagai Ketua Hanura Kuansing

Semasa kuliah di Yogyakarta, Rosi sudah ditawari beberapa partai untuk menjadi kader. Namun, karena pemikirannya masih idealis dan ilmiah, ia pun menolak tawaran tersebut.

"Ada dua partai yang ngajak gabung, satu partai baru dan satunya partai besar. Tapi, karena pemikiran masih sangat ilmiah, saya nyatakan belum siap," ujar Rosi.

Lantas, apa yang membuat Rosi bergabung dengan Hanura? Menjawab pertanyaan tersebut, Rosi mengaku pernah mengajukan diri untuk menjadi kader beberapa partai sebelum Pileg 2014. Namun, kemudian ia memutuskan untuk bergabung dengan Hanura.

"Kenapa Hanura, karena Hanura itu berjuang bersama rakyat. Partai ini benar-benar punya semangat memperjuangkan masyarakat yang belum tersentuh, seperti pendidikan, SDM dan lainnya," ujar Rosi.

Tidak hanya itu, pendiri Hanura yakni Wiranto merupakan tokoh idola dari Rosi Atali. Sebab, Wiranto merupakan seorang purnawirawan TNI. "Sikap pendiri yang tegas menentukan sikap partai," ujar pria berkulit putih yang sewaktu kecil bercita-cita sebagai tentara ini.

Melalui dinamika dan proses legal, kini Rosi dipercaya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Hanura Kuansing. Sebagi ketua, dirinya bertanggungjawab untuk terus melebarkan sayap Hanura di Kuansing.

"Saat ini, Hanura sudah melebarkan sayap dan siap menjadi ujung tombak perjuangan rakyat," ujar Rosi. Ia pun mengajak putra-putri terbaik Kuansing untuk bergabung dengan Hanura.

Bagi Rosi, politik merupakan sebuah seni, seni memimpin, seni mengelola dan seni mengkombinasikan semua perbedaan. Menurutnya, melalui jalur politik bisa membangun  segala aspek kehidupan masyarakat.

"Mungkin ada orang yang berpendapat bahwa politik itu busuk, politik itu penuh kepentingan sesaat. Setelah kita terjun di dalamnya, politik tak melulu seperti itu, tergantung nawaitu masing-masing," papar Rosi. Karena. Generasi muda harus sudah melek dengan dunia politik. Ia melihat, generasi milenial punya cara pandang ke arah positif tentang politik.

"Anak muda sudah banyak yang bergerak di bidang politik dan mereka bisa menggerakkan roda partai politik," kata suami Eci Trisnawati ini.

Setelah tiga tahun menjadi Anggota DPRD Kuasing, Rosi mengaku masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Terutama untuk pemerataan pembangunan. Karena itu, butuh kerjasama yang baik antara eksekutif dan legislatif.

"Hanura selalu melihat secara riil di lapangan, seperti pembangunan infrastruktur, pengembangan SDM, pemerataan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang menjadi hak-hak masyarakat. Jika hal ini belum didapatkan masyarakat, kita akan terus berjuang," papar Rosi.

Sebelum di Panggung Politik, Rosi Menempa Diri di Dunia Jurnalistik

Setelah selesai menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Komunkasi Indonesia di Yogyakarta dengan jurusan Media Luar Ruang, Rosi langsung menasbihkan diri untuk mengabdi kepada masyarakat, tentunya lewat jalur dunia jurnalistik. Hal itu sesuai dengan ilmu yang ia peroleh selama berada di bangku kuliah.

"Dunia jurnalistik itu sangat mulia sekali, dunia yang mengantarkan wawasan baru kepada saya. Sebagai jurnalis, saya mendapat banyak tantangan dan tentunya informasi yang kita dapatkan sangat berguna bagi masyarakat," ujar mantan wartawan Indra Network ini. Melalui media massa, Rosi telah melakukan pengawasan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah.

Lebih dua tahun Rosi bergelut dengan dunia jurnalistik. Ia mengaku, dunia tersebut mendapat tempat tersendiri di hatinya. Sebab, melalui dunia jurnalistik ia merasa lebih peka terhadap lingkungan. "Dari sini juga saya bisa mengasah pemikiran kritis dan dengan cepat memahami apa yang terjadi."

"Saat ini saya rindu dengan profesi jurnalis, saya ingin kembali. (Mungkin sebagai bos media) hahaha," ucap Rosi tertawa terbahak-bahak.

Setelah 'gantung pena' dari dunia jurnalistik, Rosi terjun ke dunia profesional dengan membuka usaha bidang fotografi. Usaha tersebut terus ia geluti hingga akhirnya memutuskan terjun ke dunia politik.

"Sangat banyak pengalaman dan ilmu yang saya dapatkan ketika masih menjadi seorang jurnalis," tegas Rosi.

Pernah Mondok dan Akhirnya Tamat di SMA Pangean

Rosi Atali merupakan anak ke-3 dari lima bersaudara yang lahir pada 12 Agustus 1982 di Rengat, Indragiri Hulu. Ayahnya, H. Ruslan Sudin merupakan pensiunan guru dan terakhir sebagai Kepala SD Sako Pangean. Sedangkan ibunya adalah Hj. Arjuna Jasa yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga.

Setelah menempuh pendidikan Sekolah Dasar di Rengat selama 5 tahun, ia pindah ke SDN Sako Pangea. Kemudian, Rosi memilih untuk mondok di Ponpes Alfurqan di Pekanbaru. Setelah itu, ia pindah ke Pondok Syafaaturrasul di Telukkuanta. Rosi punya alasan untuk memilih 'mondok', sebab ia ingin memperdalam ilmu agama.

"Tapi, akhirnya saya tamat di SMA Pangean tahun 2001, waktu itu masih berstatus swasta," kata Rosi.

Setelah tamat SMA, Rosi sempat merantau ke Jakarta selama satu tahun. Barulah pada 2002, ia melanjutkan pendidikan di Yogyakarta. Selama kuliah, Rosi merupakan mahasiswa yang sangat aktif di berbagai kegiatan kampus. Apalagi, dirinya ditunjuk sebagai ketua tingkat mahasiswa advertising 2002.

Tidak hanya kegiatan dalam kampus yang diikuti Rosi, ia juga bergabung dengan berbagai macam organisasi, terutama paguyuban mahasiswa Kuansing yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Riau Yogyakarta (IPRY). Dirinya dipercaya sebagai Koordinator seni budaya.

Masih organisasi di bidang seni,Rosi juga bergabung dengan Perhimpunan Rumah Seni Riau Jogja (Seroja) dengan focus sinematografi. Tidak hanya itu, ia juga bergabung dengan Mapala yang ada di Kampus. "Sudah naik gunung," katanya.

Menjadi aktivis selama kuliah, kata Rosi, merupakan bagian dalam pengembangan kualitas diri. Sebab, tidak semua ilmu ada di bangku kuliah. "Ini termasuk penguatan diri."

Kini, dari hasil pernikahannya dengan Eci Trisnawati, Rosi memiliki dua orang anak, yakni Alifa Shifa Atali dan Fauzia Fariza Agustina Atali.***