
AKHIR-AKHIR ini semua umat beragama, semakin diuji spirit kedamaiannya, semakin diuji spirit toleransinya dan semakin diuji spirit kebersamaannya. Malah secara global disebut: saat ini dunia sedang dikepung oleh awan gelap kebencian (saling curiga, fitnah, saling tuduh, kebohongan dst).
Kenapa bisa terjadi? Jawabannya tentu bervariasi namun untuk tulisan ini kita ambil jawaban yang dominan dari sekian banyak kemungkinan jawabannya yaitu: Karena gagal pemahaman agama. Indikasinya antara lain agama hanya formalitas dan rutinitas.
Agama dipahami hanya ritual-ritual belaka, sedangkan esensinya diabaikan. Agama dianggap hablumminallah saja sedangkan hablumminannas terlupakan. Kita lihat keseharian ummat, kita bersyukur, karena republik kita ini dihuni orang-orang beragama, sekaligus negeri terbesar didunia pemeluk islamnya.
Kita bersyukur, karena ada kecendrungan perempuan-perempuan islam menutup aurat walaupun sebagian besar belum memenuhi syarat. Kita bersyukur, ada peningkatan aktifitas majelis-majelis taklim, diskusi-diskusi dan kajian-kajian islam.
Kita bersyukur, fatwa-fatwa tokoh agama masih ada dan kita bersyukur¸MTQ dan peringatan-peringatan hari besar islam tetap terlaksana dan kegiatan-kegiatan lainnya. Dari kondisi seperti ini, logika dan akal sehat mengatakan rupanya ajaran islam sepertinya sudah teramalkan.
Namun kita risau, karena logika dan akal sehat diatas belum terlihat dampaknya dalam keseharian kita atau belum terlihat buahnya. Kita risau, masih banyak rambu-rambu agama yang dilabrak. Kita risau, tokoh-tokoh sentral partai islam banyak dipenjara.
Kita risau, kejujuran dan keteladanan semakin hilang. Kita risau, pelanggaran-pelanggaran dianggap hal biasa. Kita juga risau, karena rasa malu semakin jauh. Kita risau, karena pilar-pilar keadilan roboh satu persatu.
Kita risau, entah kemana asa mau diusung. Kita risau, berkeliaran berita-berita kebencian dan kebohongan. Kita risau, banyak orang pintar dan orang alim tapi minus akhlak. Disatu sisi kita bersyukur, namun disisi lain kita risau.
Kenapa? Akibat ajaran islam belum diamalkan dengan baik, baru sebatas diketahui, dihafal-hafal, diwirid-wiridkan. Islam belum dijadikan kebutuhan pokok kehidupan, islam belum menjadi panduan dalam keseharian kita.
Rukun dan syariat-syariat lainnya belum berdampak, belum berbuah dalam kehidupan keseharian. Inilah yang disebut agama hanya formalitas atau rutinitas belaka.
Padahal jika semua amalan-amalan kita terutama rukun-rukun maupun syariat-syariat lainnya sudah berdampak, dimana kehidupan kita berlangsung aman, damai, rukun, saling menghargai, toleran, yang dipandu oleh adalah akhlak mulia dan tauhid yang mantap, maka diyakini tujuan islam akan tercapai yaitu bahagia didunia dan bahagia di akhirat.
Dengan demikian segala kerisauan diatas tentu semakin hilang. Solusinya hanyalah kembali kepada Al-Quran dan sunnah secara kaffah dan sungguh-sungguh yang intinya adalah pengamalan, dimana kita tidak boleh lupa dan harus sadar bahwa islam adalah ajaran yang sempurna, tidak ada yang tidak diurus oleh islam.
Oleh sebab itu tiada pilihan kecuali berusaha terus untuk mengamalkan ajaran islam dan betul-betul kita jadikan panduan segala aktifitas kehidupan. Mari kita jauhi islam formalitas dan rutinitas. Jadilah kita ummat yang betul-betul Qur’ani dan Robbani. Wallahua’lam.***
Iqbal Ali adalah pengamat sosial dan keagamaan serta Mubaligh IKMI Riau