PEKANBARU, GORIAU.COM - Rilis jumlah titik panas yang diindikasi sebagai peristiwa kebakaran lahan atau hutan di daratan Sumatera termasuk Riau terkesan membingungkan. Lembaga Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) saling klaim namun bertentangan hasil.

Saat ini, BNPB masih merujuk pada Satelit NOAA 18, sementara BMKG telah mengalihkan rujukan pendeteksian titik panas ke Satelit Terra dan Aqua yang dianggap lebih canggih dan memberikan akurasi yang maksimal. 

BNPB terakhir meriliskan hotspot di daratan Sumatera khususnya Riau mengalami peningkatan signifikan. Sebaliknya, BMKG Stasiun Pekanbaru malah meriliskan bahwa titik panas menurun drastis. 

Terakhir BNPB menyatakan NOAA mendeteksi ada sebanyak 243 titik panas muncul di daratan Riau, sementara Terra dan Aqua malah hanya merekam hotspot di daerah yang sama sekitar 24 titik. 

Untuk menghindari kerancuan dan mengantisipasi kebingungan publik pembaca, GoRiau.com mencoba menelusuri kemampuan dua satelit berbeda yang menjadi rujukan dua lembaga pemerintah tersebut. 

Satelit NOAA 

Dilihat dari sejarahnya, Satelit NOAA merupakan satelit meterologi generasi ketiga milik "National Oceanic and Atmospheric Administration" Amerika Serikat. 

Munculnya satelit ini untuk menggantikan generasi satelit sebelumnya, seperti seri Tiros (Television and Infra Red Observation Sattelite pada tahun 1960-1965) dan seri IOS (Infra Red Observation Sattelite pada tahun 1970-1976). 

Konfigurasi satelit NOAA adalah pada ketinggian orbit 833-870 kilometer, inklinasi sekitar 98,7 hingga 98,9 derajat celsius, mempunyai kemampuan mengindera suatu daerah 2 kali dalam 24 jam (sehari semalam). 

Namun kelemahan dari satelit asal Amerika Serikat ini adalah hanya mampu merekam suhu udara berkisar 37 hingga 42 derajat celsius untuk kemudian dikategorikan sebagai titik panas atau indikasi kebakaran lahan. 

Satelit Terra da Aqua 

Sementara itu, Satelit Terra dan Aqua yang saat ini menjadi rujukan BMKG adalah dua satelt dengan teknologi yang lebih canggih, itu karena peluncurannya juga baru dilakukan pada tahun 1999. 

Satelit Terra atau EOS AM-1 menurut hasil penelusuran adalah satelit penelitian multinasional NASA di orbit sun-synchronous di sekitar bumi. 

Terra dilengkapi dengan kecanggihan teklogi untuk memantau kondisi bumi termasuk kejadian-kejadian seperti kebakaran lahan yang lebih spesifik. 

Begitu juga dengan Satelit Aqua. Fungsinya tidak jauh berbeda dengan Terra dengan kelengkapan teknologi terbaru mengalahkan NOAA. 

Satelit Terra dan Aqua mendeteksi panas bumi yang diindikasi sebagai kejadian kebakaran lahan dari suhu udara sekitar 42 hingga 47 derajat celsius. 

Sementara NOAA sejauh ini hanya menyimpulkan sebuah titik panas dengan penteksian suhu udara berkisar 37 hingga 42 derajat celsius. Pada Satelit Terra dan Aqua juga ada pembagian tingkat kepercayaan 80 hingga 100 persen (peristiwa kebakaran lahan). Sementara NOAA belum pada tahapan itu. (fzr)