PEKANBARU, GORIAU.COM - Pusat Studi Bencana Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Universitas Riau (PSB-LPPM Unri) menggelar kegiatan seminar internasional mengangkat tema 'Keberadaan Keanekaragaman Hayati Perkebunan Kelapa Sawit dan Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut' kerjasama Unri dengan CSEAS Kyoto University dan Pemkab Pelalawan, Selasa (5/8/2015).

Seminar sehari ini menghadirkan para pembicara peneliti perkebunan kelapa sawit dan lahan gambut dari Kyoto University Jepang Prof. Okamoto dan Prof. Kosuke Mizuno, Asisten II Pemkab Pelalawan H. Atmohadi. Prof. Almasdy Syahza, SE, MP (LPPM Unri) Prof. Azwar Maas (UGM), Prof. Herry Purnomo (Cifor), Prof. Ashaludin Jalil MS (PSB-LPPM Unri).

Panitia Pelaksana dr Hannan Khairu Anami menjelaskan, seminar internasional ini menampilkan hasil penelitian dari tiga negara Jepang, Singapur dan Indonesia terkait keberadaan dan permasalahan lahan gambut di Riau. Masalahnya, selama ini dketahui penanaman sawit membuat tanah gambut kering dan menyebabkan mudahnya kebakaran terjadi.

"Tujuan dari seminar ini untuk mengetahui bagaimana memanfaatkan lahan gambut ini dengan perkebunan sawit dan lain sebagainya. Dengan hasil ini, lita bisa tahu bagaimana pengelolaan lahan gambut sebaiknya dilakukan. Riau inikan terdiri dari lahan bergambut yang dimanfaatkan untuk perkebunan sawit," sebut Hannan.

Sementara itu, Asisten II Pemkab Pelalawan H. Atmohadi yang memberikan pemaparan awal menyebutkan, di Pelalawan sebagai wilayah bergambut, telah berdiri sedikitnya 23 pabrik kelapa sawit (PKS). Karena itu Pemkab terus melakukan pengawasan persoalan kebakaran lahan agar tidak terjadi setiap tahunnya.

Rektor Universitas Riau Prof. Aras Mulyadi, DEA mengapresiasi dilangsungkannya seminar tersebut, dengan harapan Unri sebagai lembaga pendidikan riset mampu mencari solusi persoalan perkebunan sawit terhadap lahan gambut di Riau dalam menjaga keanekaragaman hayati di dalamnya.

Indonesia perlu mengubah pendekatan pembangunan di lahan gambut agar disesuaikan dengan konsep ekonomi hijau demi mempertahankan perannya yang besar dalam mencegah emisi karbon dan terjadinya perubahan iklim.

Peniliti Universitas Riau Prof. Dr. Almasdi Syahza, SE, MP, pemanfaatan lahan gambut bagi perkebunan kelapa sawit yang di Riau diperkirakan mencapai 500 ribu hektar harus mulai mempertimbangkan sistem tata air dengan memperbaiki kanalisasinya.

"Kedalaman gambut Riau ditaksir rata-rata 7,5 meter, tergolong gambut sangat dalam. Tapi ada bukti bahwa lahan gambut di beberapa kabupaten Riau menyusutkan kedalamannya karena kerusakan dan kebakaran," katanya.

Selain kelapa sawit, Riau juga memiliki hutan tanaman industri berupa akasia untuk industri bubur kertas, yang separuhnya memanfaatkan lahan gambut.

Pada 1985 Provinsi Riau tercatat sebagai provinsi yang memiliki hutan alam paling luas dengan cakupan 6,9 juta hektar atau 28 persen dari total luas hutan alam Sumatera, pada 2007 berkurang drastis menjadi tinggal 4,3 juta hektar.(rul)