SELATPANJANG, GORIAU.COM - Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Kabupaten Kepulauan Meranti, Mulyono, menegaskan bahwa permasalahan kelistrikan di Selatpanjang tak bisa dibiarkan. YLPK mengaku bisa dan siap membawa permasalahan ini ke ranah hukum sebab pemadaman listik oleh PLN Selatpanjang sudah sangat merugikan konsumen.
Demikian disampaikan Mulyono ketika ditemui di Selatpanjang, Senin (19/5/2014) pagi. Kata Mulyono, dalam waktu dekat YLPK akan melakukan pertemuan dengan banyak pihak di Kepulauan Meranti.
Pertemuan itu nantinya untuk membuat suatu kesepakatan atau semacam pernyataan sikap dari masyarakat Selatpanjang sekitarnya dengan membubuhkan tanda tangan.
"Kita akan mengadakan pertemuan dengan banyak pihak untuk membicarakan permasalahan kelistrikan di Meranti ini. Nanti kita minta juga setiap masyarakat membubuhkan tanda tangannya untuk melakukan interaksi hukum/somasi ke PLN YLPK siap menjadi barisan terdepan," kata Mulyono.
Ditambahkan Mulyono lagi, dengan adanya tanda tangan seluruh masyarakat itu, maka YLPK akan membawa permasalahan kelistrikan ini ke ranah hukum. Katanya pula di sana YLPK akan minta ketegasan, sebenarnya PT PLN (PLN Rayon Selatpanjang) ini bisa atau tidak memberikan pelayanan maksimal ke masyarakat.
"Kalau memang tidak bisa jangan dipaksakan, kan Pemda bisa mencari aternatif lain, seperti mendatangkan investor dibidang perusahaan listrik. PPLN di Meranti ini sudah sangat enak, dibantu Pemda untuk melengkapi berbagai fasilitasnya," tambah Mulyono lagi.
Kekesalan banyak pelanggan yang disampaikan ke YLPK ini bukan tanpa alasan. Akhir-akhir ini pemadaman listrik di Selatpanjang dan sekitarnya dikabarnya 3:1, namun belum seharusnya dapat jatah pemadaman, listrik tak jarang mati dan itu berkali-kali.
Untuk itu pula lah Mulyadi juga mengungkapkan beberapa dampak serius yang ditimbulkan dari pemadaman listrik ini. Seperti menghambat perekonomian. Menurut Mulyadi, masyarakat pelaku bisnis kecil terpaksa menggunakan genset dengan BBM Bensin, dengan mati-matinya listrik ini, dan ini membuat para pelaku bisnis kecil itu butuh biaya tambahan yang tak sedikit, dan mengakibatkan menipisnya keuntungan bahkan bisa menelan kerugian.
Di sisi lain tambah Mulyono, selaku kontraktor dirinya sangat membutuhkan sistem online (pelelangan dan perlengkapan bahan melalui LPSE). Namun dengan mati-matinya listrik akhir-akhir ini sangat mengganggu aktifitas itu.
"Akibatnya professional itu tidak nampak lagi, proyek-proyek akan gagal di meranti, secara tak langsung matinya listrik ini bisa menghambat pembangunan di Meranti," ujarnya pula.
Sebelumnya, keluhan dari beberapa orang tua sering disampaikan ke wartawan. Karena saat ini anak SD sedang menggelar ujian utama untuk kelulusan. Tak jarang saat sedang belajar listrik mati, dan ini dikhawatirkan berdampak pada hasil ujian siswa/i tersebut.
(zal)