
JAKARTA - Badan Energi Internasional (IEA) mengeluarkan peringatan keras terkait krisis minyak terburuk sepanjang sejarah akibat konflik Timur Tengah, Minggu (22/3/2026). Penambahan pasokan dinilai tidak cukup menyelamatkan dunia dari ancaman kebangkrutan energi, sehingga penurunan permintaan bahan bakar secara radikal menjadi jalan satu-satunya.
Guncangan pasar ini dipicu pecahnya perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak akhir Februari lalu. Penutupan Selat Hormuz sebagai jalur utama seperlima konsumsi minyak bumi global memicu kelangkaan parah. Dampaknya harga minyak mentah melonjak lebih dari 40 persen atau menyentuh level tertinggi sejak tahun 2022.
Organisasi tersebut terpaksa mengambil langkah darurat dengan melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis negara anggota pekan lalu. Intervensi terbesar sepanjang sejarah ini disadari hanya menjadi solusi sementara di tengah eskalasi pertempuran militer.
"Mengatasi permintaan adalah alat penting dan segera untuk mengurangi tekanan pada konsumen dengan meningkatkan keterjangkauan dan mendukung keamanan energi," urai laporan IEA sebagaimana dikutip dari CNBC.
Institusi energi tersebut memberikan rekomendasi pemangkasan penggunaan bahan bakar bagi rumah tangga maupun pelaku bisnis, khususnya sektor transportasi darat yang menyumbang 45 persen permintaan global. Langkah strategis yang diusulkan meliputi penerapan kembali sistem bekerja dari rumah (work from home), penggunaan transportasi publik, pemberlakuan batas kecepatan kendaraan, pengurangan perjalanan udara, hingga peralihan kompor gas menuju tenaga listrik.
Sejumlah negara mulai menyesuaikan kebijakan pungutan negara untuk menekan inflasi. Spanyol berencana memangkas pajak pertambahan nilai bahan bakar dari 21 persen menjadi 10 persen serta menghapus pajak listrik. Italia ikut memotong bea cukai bahan bakar, sementara Jerman menyiapkan aturan windfall tax bagi perusahaan minyak raksasa demi melindungi daya beli masyarakat.
Hingga Jumat (20/3/2026) pagi, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei bertengger di angka US$109,93 per barel. Minyak West Texas Intermediate (WTI) terpantau stabil di kisaran US$96,20 per barel.***