PEKANBARU - Pasca gelombang panas yang melanda, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekanbaru meningkatkan kesiapsiagaan dalam penanggulangan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dengan koordinasi lintas sektoral dan organisasi perangkat daerah (OPD), penanganan karhutla diharapkan semakin efektif.

Kepala BPBD Pekanbaru, Zarman Candra, pada Kamis (11/5) menegaskan komitmen lembaga dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla. BPBD Pekanbaru rutin melakukan pemantauan prediksi cuaca melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta menyiagakan personel Team Reaksi Cepat (TRC).

"Kami juga menyiagakan personel Team Reaksi Cepat (TRC). Tak hanya personel, kami juga menyiapkan sarana dan prasarana yang berkaitan dengan karhutla," ungkap Zarman.

Selain itu, BPBD Pekanbaru melakukan imbauan kepada daerah-daerah yang rawan bencana karhutla dan menyediakan Call Center di nomor 112 atau 08117651464 (BPBD) untuk melaporkan segala bentuk indikasi kebakaran.

Pada 9 Mei lalu, Pekanbaru mencatat suhu terpanas sebesar 35,7 derajat Celcius, namun berdasarkan konfirmasi dengan kepala BMKG Pekanbaru, suhu terpanas telah berpindah ke Sumatera Utara dan Kepulauan Riau.

"Penyinaran matahari terserap secara maksimal di permukaan wilayah Sumatera sekitar ekuator. Ini disebabkan terbukanya atmosfer, karena pertumbuhan awan terkonsentrasi di wilayah Samudra Hindia akibat adanya bibit siklon," jelas Zarman.

Namun, Zarman menambahkan bahwa bibit siklon tersebut telah melemah dan punah, sehingga awan-awan hujan mulai tumbuh di wilayah Provinsi Riau.

Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, BPBD Pekanbaru berharap dapat menjaga Kota Pekanbaru tetap aman dari potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama pasca gelombang panas yang berpotensi memicu karhutla. ***