
PEKANBARU – Pengamat Politik Riau, Dr Panca Setyo Prihatin, menilai keinginan sejumlah partai untuk membidik potensi suara dari kalangan anak muda akan lebih berat di Pemilu 2024.
Sebagai informasi, kalangan milenial yakni anak muda dibawah usia 40 tahun memang menjadi incaran semua partai, sebab mereka diprediksi akan menjadi pemilih terbanyak dengan persentase 52-54 persen di Pemilu 2024 mendatang.
Pemilu 2024 ini, menurut Panca, memang menjadi momen peralihan dari kalangan tua ke ke kelompok anak muda. Peralihan ini memang akan terus terjadi, karena dia berjalan secara alamiah.
"Proses ini tak mungkin terelakkan, dan berjalan secara alami. Sayangnya, hal ini tidak bisa dihadapi dengan persiapan yang sekejap, harus dilakukan dalam jangka waktu panjang," ujar Dosen Universitas Islam Riau ini, Senin (7/3/2022).
Keputusan para pimpinan partai yang memberikan porsi besar untuk anak muda, katanya, sudah tepat. Namun, yang menjadi kendala adalah anak-anak muda memiliki keterbatasan dalam relasi politik maupun, dan juga finansial. Dua hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting untuk mendulang suara di Pemilu.
Selama ini, menurutnya, Partai Politik (Parpol) cenderung meninggalkan perannya dalam melakukan edukasi politik. Mestinya, parpol lebih aktif lagi melakukan edukasi politik, dan kalangan muda merupakan sasaran yang sangat bagus untuk dijadikan objek edukasi.
"Fungsi Parpol masih tersumbat disana, mestinya Parpol sudah mulai melakukan pendekatan kepada anak muda, melalui kerja-kerja nyata. Tidak hanya anak muda saja sebenarnya, tapi juga ke kalangan perempuan dan segmentasi lainnya," ujarnya.
Dengan banyaknya anak muda yang terjun ke politik, Panca berharap, Parpol bisa mulai fokus ke edukasi politik. Terutama Partai Demokrat Riau yang memberikan porsi 62 persen untuk anak muda dibawah 40 tahun ini.
Selain Demokrat, partai-partai lain sebenarnya sudah banyak yang melakukan pendekatan ke kalangan muda, terutama melalui sayap-sayap partai.
Sudah saatnya, lanjut Panca, partai mulai meninggalkan sikap politik jangka pendek melalui perilaku politik transaksional. Dan anak-anak muda sangat tepat untuk dimajukan dalam menghilangkan politik transaksional ini.
"Parpol tidak boleh pasif, yang perlu itu fungsi pendidikan politik, meskipun KPU dan Kesbangpol juga memiliki tanggungjawab atas itu. Keputusan Demokrat sudah sangat baik, tinggal bagaimana mengelola saja. Karena bagaimanapun anak muda sekarang akan menggantikan tokoh yang ada sekarang, mulailah pembinaan melalui edukasi politik," tutupnya. ***