PEKANBARU - Profesor sekaligus pakar gambut dari UGM (Universitas Gadjah Mada) Azwar Maas, 'buka suara' terkait tak pernah berakhirnya permasalahan kebakaran lahan dan hutan (Karlahut) yang selalu jadi bencana langganan di Provinsi Riau.

Menurut dia, seberapa banyaknya peralatan dan besarnya upaya pemadaman, tidak akan memberikan dampak besar dalam mengantisipasi masalah Karlahut di lahan gambut, termasuk Riau. Terpenting, adalah bagaimana mencegah agar kebakaran tidak terjadi.

"Justru yang paling penting itu adalah bagaimana caranya menjaga agar lahan gambut tetap stabil, cukup kandungan air dan lembab. Itulah yang kita berikan rujukan, yaitu restorasi gambut, salahsatunya membuat sekat kanal. Ini bagus untuk dicanangkan di daerah rawan kebakaran lahan dan hutan," ungkap dia.

Azwar yang dihadirkan Polda Riau dalam sosialisasi pencegahan Karlahut di Sekolah Polisi Negara (SPN) Pekanbaru, Rabu (20/1/2016) mengatakan, restorasi gambut itu menyangkut bagaimana agar lahan gambut ini dapat menyimpan air saat musim kemarau. "Jadi sepanjang tahun, penyimpanan air di lahan gambut selalu tersedia," katanya.

Dengan begitu, lahan tetap selalu lembab, dan tidak berpengaruh besar meski sedang kemarau, karena persediaan air bisa diatur. Namun faktanya di Riau, hal itu terlambat dilakukan pada saat bencana Karlahut 2015 lalu. Sebab itu, Azwar sangat mendukung dengan digalakkannya pembuatan sekat kanal (blocking kanal) seperti yang digagas sekarang.

"Fungsinya untuk mengatur peredaran air. Jadi tidak ada lagi alasan karena kemarau air tidak ada sehingga pemadaman sulit dilakukan. Konsep dasarnya mudah, yaitu pengadaan air. Caranya dengan kanal bloking, posisi kanal dan penyebarannya. Jadi air tak langsung terbuang ke laut," bebernya lagi.

Agar itu berjalan efektif dan tepat, perlu dilakukan pemetaan, kira-kira dimana penempatan posisi penyebaran air ini yang cukup berpotensi. "Kalau disatu lokasi terlalu banyak kanal juga tidak baik dan harus dikurangi, karena jika tertumpuk disatu tempat, maka tempat lain akan kering," terangnya kepada GoRiau.com.

Azwar yang juga merupakan dosen Fakultas Pertanian UGM ini menambahkan, lahan gambut juga memiliki kelebihan yang disebut 'kubah', yang juga memiliki fungsi menyimpan air secara alami. "Kubah ini terbentuk secara alami. Fungsi kubah ini yang harus kita kembalikan dan menatanya. Jadi di wilayah atas dan bawah kubahnya merata tercukupi stok air," tukasnya.

"Untuk satu hektar lahan gambut yang terbakar butuh 500 ton air untuk pemadamannya. Bayangkan berapa biaya penghematan yang bisa dilakukan dengan menjaga kubah dan membuat blocking kanal ini, yang sekaligus dapat mencegah sebelum terjadinya Karlahut," tutupnya. ***