PEKANBARU - Suku Anak Rawa yang disebut-sebut pemukim pertama di Kabupaten Siak, Provinsi Riau makin hari kian termarginalkan. Mereka terpaksa bertahan hidup dengan pola lama yang diajarkan para buyut, di tengah pesatnya kemajuan zaman. Tak ayal, ketertinggalan menyeruak, baik dari segi infrastruktur, keahlian, ilmu pengetahuan dan lainnya.
Selain tak bersekolah, Suku Anak Rawa yang tinggal di Mato Rimbo juga tidak punya fasilitas air bersih untuk minum dan memasak, ditambah posisi kawasannya dekat dengan laut menjadikan air tergolong barang mahal di sana. Untuk mendapatkan itu, harus menempuh perjalanan dengan Pompong selama dua jam menuju lokasi yang dinamakan Sungai Metas.
"Di situ kami mengambil air bersih buat minum dan memasak. Kami berharap supaya pemerintah memberikan bantuan fasilitas air bersih. Atau tidak perusahan-perusahan sini mau memberikan sumbangannya. Karena kalau selalu ke Sungai Metas itu biaya solarnya besar, sementara hasil kebun dan melaut kami harus dibagi lagi buat hidup sehari-hari," ucap Erno, anak dari tetua suku di Mato Rimbo melanjutkan ceritanya.
Harapan lainnya yang jauh lebih sederhana namun tak pernah terealisasi, yakni mendapatkan bantuan Gumbang. "Gumbang seperti alat penangkap ikan. Kalau saja ada sumbangan itu, pekerjaan kami semua di sini jauh lebih mudah dan hasil tangkapan bisa meningkat. Sekarang paling-paling yang kami dapatkan dari melaut cuma Ikan Teri," ujarnya.
Suku Anak Rawa di Mato Rimbo memang tak seperkasa dulu. Bahkan laut pun yang awalnya tunduk kini tak lagi bersahabat. Bukan karena alam, namun kengerian mereka bila berhadapan dengan kapal besar pengangkut barang, serta jejeran tongkang-tongkang sarat muatan. Sedikit saja lengah, riak ombak yang dihasilkan kapal besar ini dapat sewaktu-waktu menenggelamkan mereka.
Ada cerita, salahseorang warga nyaris tak selamat setelah sampannya tersedot masuk ke arus bawah dari Kapal Tongkang yang sedang parkir dekat perairan. Warga itu tak sengaja tertidur di sampannya setelah menebar perangkap ikan. Pelan-pelan, arus membawa sampan tersebut mendekat ke lambung bawah kapal hingga tak menyisakan ruang sedikitpun.
Walhasil, sampan ini tenggelam berikut dengan pemiliknya, persis di bawah kapal besar tersebut. Sekuat tenaga ia menyelamatkan diri dan bergelantungan dari tepian yang bisa ia jangkau. Beruntung takdir menyelamatkan dirinya dari peristiwa nahas ini. Namun efeknya, bapak tersebut sampai kini selalu dihantui ketakutan dan enggan turun melaut.
Perjuangan Anak Rawa Melawan Himpitan Ekonomi dan Perusahaan Besar
GoRiau.com mencoba mengorek berapa pendapatan mereka dengan bertahan hidup di sana. Menjawab itu, Erno pun mengingat-ingatnya. "Penghasilan dari Sagu itu satu tual-nya Rp40 ribu. Panennnya kadang sekali setahun. Cuma belakangan ini menurun. Ada pengaruhnya air asin masuk ke kebun Sagu. Apalagi sekarang ada Kumbang Tanduk, dulu tak ada pernah terjadi," bebernya.
Demi mendapat penghasilan tambahan, masyarakat Mato Rimbo pernah mencoba melamar kerja di pabrik milik perusahaan besar yang lokasinya tak berapa jauh. Tapi sayang, mereka justru ditolak atas alasan tidak punya pendidikan. Padahal pekerjaan tersebut bukanlah menggunakan otak, melainkan tenaga. "Kerja kasar kami bisa, tapi tak dapat melamar di sana. Malah yang ada perusahaan itu membawa pekerja lapangan dari luar kota," sindir dia.
Apa yang dirasakan Suku Anak Rawa yang bermukim di Mato Rimbo ini, turut menuai komentar dari Direktur Scale Up, Hari Oktavia. Ia menyebutkan kalau tata kehidupan Suku Anak Rawa memang telah bergeser, dari awalnya bergantung pada hasil alam, sekarang justru bergantung dengan uang. Padahal semestinya, Suku Anak Rawa di Siak tersebut sangat ahli mengolah hutan untuk mengisi perut mereka sehari-hari.
"Anak Rawa hidupnya bergantung di hutan dan air. hari ini dengan kehadiran beberapa perusahaan di sekitar mereka, membuat luasan jelajah berkebun dan berburu makin berkurang. Hutan kini tak bisa jadi tempat bertumpu hidup karena beralih fungsi menjadi kebun dan industri. Sedangkan para pekerja perusahaan, membawa pengaruh nilai uang dalam kehidupan suku," sebut Hari.
"Gemerlapnya industri di sana dengan fakta kehidupan pinggiran warga sangat tidak berimbang. Kenyataannya Suku Anak Rawa tidak diperhitungkan, bahkan untuk menjadi pekerja buruh kasar pada perusahaan. Jadi jangan dipertanyakan apa upaya perusahaan terhadap masyarakat," sindir Direktur Scale Up tersebut.
Kini, sisa-sisa Suku Anak Rawa di Kampung Penyengat mulai 'tenggelam'. Bukan tidak mungkin, lambat laun Suku Anak Rawa akan hilang, seiring kian berkurangnya kawasan hutan yang beralih fungsi menjadi pabrik. Sementara di air, sampan mereka dihadang oleh besarnya kapal barang.
Walau begitu, pola hidup harmonis yang jadi warisan orang tua terdahulu masih dipegang teguh warga Kampung Penyengat. Meski warganya tak ramai, namun agama di sana cukup beragam. Semuanya berselaras dan saling menghargai. Belum pernah ada konflik yang muncul disebabkan hal itu. Mereka juga membiasakan hari dengan tutur sapa ramah dengan sesama.
Itulah Kampung Penyengat, yang kini telah ditetapkan pemerintah Kabupaten Siak sebagai Kampung Adat, tempat di mana hidup Suku Anak Rawa, penguasa hutan hingga ke muara, bersahabat dengan alam sampai kepada hewan, serta memiliki kemampuan mistis turun temurun dari nenek moyang mereka yang menganut animisme. Tamat