
AKHIRNYA terwujud hasrat Riau menjadi tempat kunjungan wisata. Diperkirakan wisatawan dari seantero dunia akan datang untuk menyaksikan lomba pacu jalur di Kota Talukkuantan, Kabupaten Kuantansingingi, pekan ini.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming pun diperkirakan hadir pada acara pembukaan Rabu ini. Menteri Pariwisata turut mendampingi wapres. Juga dikabarkan selebritis internasional pun sudah banyak yang menyatakan akan hadir.
Pantas jika dikatakan ini adalah keberuntungan yang luar biasa. Kendati tak memiliki obyek wisata yang menarik, Riau akhirnya mendapatkan sebuah acara yang mampu menyedot perhatian banyak orang. Yakni dengan mengadakan acara lomba pacu jalur.
Padahal acara ini bukan baru sekarang dilaksanakan. Menurut Wikipedia, tidak diketahui dengan jelas kapan mulai dilaksanakan acara ini. Namun, publikasi terawal menarasikan Pacu Jalur terbit tahun 1895, atau di abad 19 Masehi.
Sayangnya, meskipun sudah sekian lama diselenggarakan, acara ini hanya diketahui sebagian kecil orang. Meski telah berlangsung sekian abad, toh pacu jalur tak mampu menjadi even nasional, maupun regional, apalagi internasional. Padahal, sebagian besar masyarakat kita tinggal di tepi sungai. Begitu juga warga di Asean dan Asia.
Pacu jalur mulai mendunia setelah tampilnya si anak ajaib, Rayyan Arkhan Dhika sebagai maskot di perahu yang berlomba. Lenggok tariannya sebenarnya biasa saja. Tak ada yang spesial. Namun, kemampuannya menyeimbangkan badan sehingga tak terjungkal dari perahu, membuat adegan ini menjadi memiliki nilai tambah.
Walhasil, banyak yang menirukan adegan ini dalam berbagai corak. Termasuk oleh para selebritis di bidangnya. Mulai dari pemain bola, pembalap mobil, bahkan belakangan orang jompo pun ikut-ikutan.
Sebenarnya beberapa tahun lalu wisatawan mancanegara mulai melirik Riau. Yakni dengan adanya bono di Sungai Kampar. Pada jam tertentu air dari hilir membalik ke hulu sehingga menimbulkan gelombang yang tinggi.
Dikabarkan sudah banyak korban tenggelam akibat perahunya dihajar ombak besar. Namun, bagi pemain surfing ini dianggap surga baru untuk bermain surfing. Namun, entah mengapa kegiatan ini tak berkembang lama. Mungkin jalan ke sana yang kurang baik membuat orang jadi enggan datang.
Belajar dari kasus bono di Sungai Kampar, pacu jalur sebaiknya harus dikelola secara lebih profesional. Buat acara-acara tambahan atau tampilkan lokasi yang baik untuk menarik wisatawan. Jangan sampai sekali jalur dipacu, kemudian tak muncul lagi. Hanyut dibawa arus. ***
* Irwan E. Siregar adalah wartawan senior bermastautin di Pekanbaru, Riau.