BOGOR – Kepulangan Suderajat ke rumahnya di kawasan Bojonggede membawa duka bagi keluarga. Penjual es busa berusia 50 tahun itu pulang dalam kondisi lemas dan mengaku telah menjadi korban kekerasan oleh oknum polisi usai ditahan akibat tuduhan tak berdasar mengenai dagangannya.

Putri Suderajat, Zaitun, menceritakan kecemasannya saat sang ayah tak kunjung pulang ke rumah pada hari kejadian. Biasanya, pria yang mencari nafkah hingga ke Kemayoran, Jakarta Pusat itu sudah tiba di rumah pukul 16.00 WIB. Namun, hingga larut malam, Suderajat tak kunjung terlihat di Stasiun Citayam tempat ia biasa turun kereta.

"Khawatir, sampai nyari ke stasiun sama mama. Biasanya pulang jam 4 sore, tapi ga pulang-pulang," kenang Zaitun, Selasa (27/1/2026).

Suderajat baru menginjakkan kaki di rumah pada Minggu (25/1/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Kondisinya sangat memprihatinkan. Zaitun mengungkapkan bahwa ayahnya langsung jatuh tertidur karena kelelahan dan rasa sakit akibat dugaan penganiayaan saat ditahan di kantor polisi.

"Gelap lukanya ga keliatan. Dia lemes langsung tidur, dipukulin polisi katanya. Awalnya ga percaya, eh tiba-tiba ada viral," jelas remaja berusia 18 tahun tersebut.

Penahanan Suderajat bermula dari tuduhan bahwa es kue yang ia jual berbahan baku spons atau gabus pencuci piring. Zaitun merasa geram dengan tudingan tersebut. Ia menjelaskan bahwa tekstur es kue memang akan berubah menjadi lembek dan kenyal layaknya busa jika suhu dinginnya berkurang, namun hal itu bukan berarti menggunakan bahan berbahaya.

"Kesel banget sih, padahal ga dari spons. Karena kaya gitu kalau udah kering, kalau udah gak dingin lagi," tegasnya.

Meski sang ayah pulang dengan trauma fisik dan mental, keluarga kecil ini memilih untuk tidak memperpanjang masalah. Dengan nada getir, Zaitun mengaku sudah memaafkan perlakuan aparat terhadap ayahnya. Ia hanya berharap keadilan akan datang dengan cara yang lain.

"Dimaafkan aja menurut aku, ga gimana mana, nanti diganti lebih baik lagi," tuturnya.***