PEKANBARU, GORIAU.COM - Meski dalam satu pekan terakhir sejumlah wilayah di Riau kerap dilanda hujan siang dan malam, namun hal itu tidak menghalau terjadinya kebakaran hutan dan lahan penyebab polusi asap.

Satelit NOAA 18 yang dioperasikan Singapura bahkan kembali mendeteksi dan merekam kemunculan delapan titik panas (hotspot) di daratan Pulau Sumatra dan dua di antaranya berada di Provinsi Riau."Begitu juga dengan Satelit Modis Terra dan Aqua, dihari yang sama (Jumat 6/6), mendeteksi 11 titik panas di Sumatra dan di Riau ada dua titik," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Said Saqlul Amri kepada pers di Pekanbaru lewat pesan singkat yang diterima, Sabtu (7/6) siang.Namun menurut data yang dirilis BPBD, menunjukkan dua satelit itu memantau "hotspot" di lokasi yang berbeda. Untuk Satelit NOAA, merekam keberadaan dua titik panas di Kabupaten Indragiri Hulu, masing-masing di Desa Pesajian, Kecamatan Batang Peranap dan satu lagi berlokasi di Desa Pauh Ranap, Kecamatan Peranap.Sementara Satelit Modis Terra dan Aqua di hari yang sama, justru merekam dua titik panas berada di Kabupaten Pelalawan, tepatnya di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti.Titik panas atau "hotspot" merupakan hasil pemantauan yang patut diduga sebagai peristiwa kebakaran hutan dan lahan penyebab polusi kabut asap yang kerap melanda Provinsi Riau.Untuk hasil rekam Satelit NOAA 18, tidak disebutkan tingkat kepercayaanya, sementara Terra dan Aqua menyatakan dua titik panas di Pelalawan 42-46 persen merupakan peristiwa kebakaran lahan.Saat ini Tim Siaga Bencana Kabut Asap Riau yang terdiri dari sejumlah instansi dan lembaga terkait masih mengupayakan hujan buatan lewat penerapan teknologi modifikasi cuaca serta "water bombing" dengan menggunakan tiga armada pesawat yang "standby" di Pangkalan Udara TNI Roesmin Nurjadin Pekanbaru. (fzr)