PEKANBARU, GORIAU.COM - Meski sudah du minggu ini PT. Indo CBM Limited menghentikan sementara operasional, kekhawatiran warga Desa Lubuk Kembang Sari, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau terhadap keberadaan perusahaan eksplorasi gas metan ini belum terjawab. Sebelumnya perusahaan melakukan aktifitas pengeboran sejak sebulan yang lalu.

Kepala Desa Lubuk Kembang Sari M. Iwan Kusmawan yang dihubungi GoRiau.com, Rabu (26/8/2015) menjelaskan, persoalan antara warganya dengan PT. Indo CBM bukan sebagai bentuk penolakan warga atas kehadiran perusahaan, hanya warga meminta penjelasan terhadap keamanan dari dampak yang bakal ditimbulkan, apabila perusahaan beroperasi di sana.

"Warga saya tidak menolak kehadiran perusahaan. Tapi mereka khawatir, perusahaan melakukan penggalian sumur bor yang dalam, di sini warga bergantung pada sumur bor, takut nanti sumur mereka kering. Tapi perusahaan belum menjawab itun malah sudah beroperasi. Atas dasar kesepakatan bersama, kami minta perusahaan menghentikan sementara aktifitasnya," kata Iwan.

Kades menyebutkann di wilayahnya dihuni sekitar 806 kepala keluarga yang terdata. Selaku perangkat desa, Ia mengaku tak pernah diberitahu secara langsung oleh perusahaan mengenai rencana melakukan eksplorasi gas metan di daerah itu. Pihak perusahaan beranggapan izin kegiatan bukan pada perangkat desa melainkan satuan kerja terkait dan Pemkab Pelalawan.

"Jadi hanya itu saja, warga desa saya pada intinya khawatir, dampak dengan dilakukannya ekplorasi di daerah kami ini. Kawasan ekplorasi mereka ini tidak banyak, sekitar setengah hektar, tapi letaknya berdekatan dengan pemukiman warga, karena di situ ada jalan poros. Kalau terjadi sesuatu, nanti takutnya berimbas," tambahnya.

Sebelumnya sebagaimana diberitakan media ini, sekitar 1.300 warga Desa Lubuk Kembang Sari menandatangani surat penolakan ekplorasi tambang gas metan oleh PT. Indo CBM Limited di daerah itu. Hal ini karena diduga aktifitas penambangan yang dilakukan secara ilegal dan berada di lingkungan warga, sehingga bisa membahayakan.

Penolakan tersebut disampaikan warga secara langsung kepada anggota Komisi A DPRD Riau Sugianto yang melakukan kunjungan reses, Minggu (16/8/2015) lalu. Warga mengaku tak pernah mendapat sosialisasi mengenai rencana pengeboran. Bahkan izin penambangan diduga juga belum dikeluarkan pihak berwenang. Warga mengancam akan melakukan aksi anarkis jika perusahaan tetap melakukan aktifitas penambangan.

Kades mengingatkan perusahaan agar melakukan mediasi untuk mencari solusi yang terbaik. Kepada warganya juga diminta untuk menahan diri dengan tidak mengambil tindakan sepihak.(rul)