JAKARTA - Kalimat Berdikari atau "Berdiri di atas Kaki Sendiri" yang diucapkan Presiden Soekarno perlu diingat kembali menghadapi persaingan global saat ini. Apalagi, konsep ini menekankan kemandirian bangsa Indonesia dalam berbagai bidang.

Presiden Soekarno telah membuktikan konsep Berdikari tersebut bisa berhasil lewat sepakbola. Bukan saja sukses menjadikannya sebagai salah satu media membentuk karakter bangsa dalam proses national building, tetapi juga membangun prestasi Timnas Indonesia dengan baik.

Kiprah tim sepakbola Indonesia dalam kancah internasional dimulai pada perhelatan Asian Games di New Delhi, India tahun 1950. Pada kompetisi tersebut tim sepakbola Indonesia mengirimkan 18 pemain yang dipimpin pelatih asal Singapura Choo Seng Quee.

Pada tahun 1954, tepatnya pada Asian Games II Manila, Timnas sepakbola Indonesia dipimpin oleh pelatih asal Yugoslavia, Tony Pogacnik mampu menembus babak semifinal.
Tidak hanya itu saja Tony Pogacnik mampu membentuk Pasukan Garuda yang tangguh tanpa pemain Hindia-Belanda. Bahkan, mereka membuat kejutan dengan melaju ke perempat final Olimpiade Melbourne 1956.

Lawannya bukan kaleng-kaleng, mereka adalah Uni Soviet. Beruangnya sepak bola benua biru kala itu. Dalam pertandingan dengan hasil tanpa gol tersebut, Timnas Indonesia yang diperkuat pemain lokal di antaranya Rusli Ramang, Ramli dan Ramlan (dua bersaudara dari PSMS), Yusuf Siregar (winger lincah), Maulwi Saelan (kiper), Him Tjiang, Kiat Sek dan Tan Lìong Houw. Sedangkan Soviet diisi sekaliber pemain kelas dunia yang ternama semisal Lev Yashin, Igor Netto, Eduard Streltsov, dan Valentin Ivanov.

“Di bawah bimbingan Tony Pogacnik, Timnas Indonesia adalah yang terkuat di Asia. Jepang dan Korea yang kini menjadi langganan Piala Dunia, saat itu belum memiliki sepakbola tangguh. Hasil imbang tanpa gol tersebut menjadikan prestasi Timnas Indonesia paling dikenang. Tony Pogacnik mampu membuktikan anak negeri juga punya kemampuan,” kata mantan Anggota Komite Etik FIFA, Dali Tahir.

Dari segi postur tubuh, pemain Indonesia, yang notabenenya berpostur kecil, jelas kalah dengan Soviet. Namun, ini adalah tentang keberanian mereka meladeni pemain Uni Soviet. Sikap ngotot Timnas Indonesia melakukan perlawanan dan membentuk pertahanan kokoh hingga akhir pertandingan dengan skor imbang tanpa gol tersebut menjadi buah bibir. Bahkan, Presiden FIFA, Sir Stanley Rous sampai melontarkan pujian betapa sempurnanya defens Timnas Indonesia.

“Bicara sepakbola itu bukan hanya soal skill tetapi jiwa nasionalisme. Nah, patriotisme yang ditunjukkan Saelan dan kawan-kawan itulah membuat defens Indonesia menjadi sempurna sehingga menyulitkan Soviet meraih kemenangan,” jelasnya.

Prestasi Timnas Indonesia yang cukup mengejutkan di Olimpiade Meulborne 1956 bukan hanya membanggakan masyarakat Indonesia tetapi juga Presiden Soekarno yang dalam beberapa kunjungan selalu membawa Pasukan Garuda untuk melakukan pertandingan persahabatan.

Makanya, Dali Tahir sangat mengenal nama Saelan. Karena, dia sempat bertemu mereka saat mendampingi Presiden Soekarno melakukan kunjungan ke Italia. Saat itu, Dali tinggal di Italia karena ayahnya menjabat sebagai Atase Pertahanan di Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Italia.

Menurut Dali, kondisi Timnas Indonesia saat ini sudah berubah. Bahkan, PSSI dibawah kepemimpinan Erick Thohir terlihat bertolak belakang dengan kebijakan Ir Soeratin, Ketua Umum PSSI pertama yang memberikan karpet merah bagi pemain lokal.

Kini, PSSI lebih memilih membetuk Timnas Indonesia secara instan dengan memberikan tempat lebih banyak kepada pemain naturalisasi dari Belanda. Dengan demikian, kebijakan tersebut berdampak menyempitnya pintu masuk anak-anak negeri mengisi Skuat Timnas Indonesia.

Makanya, Dali Tahir menggambarkan popularitas yang dicapai Timnas Indonesia saat ini sesungguhnya sebuah fatamorgana meski pasukan asuhan Patrick Kluivert masih bertahan di putaran keempat babak kualifikasi Piala Dunia 2026. Diibaratkannya PSSI telah membangun "Istana Pasir" di Sepakbola Indonesia.

"Istana Pasir" itu memang kelihatan indah, tetapi sesungguhnya sangat rapuh karena dibangun tanpa pondasi. Lantas bagaimana nasib sepakbola Indonesia jika terjadi pergantian ketua umum? Itu yang patut dipertanyakan," imbuhnya.

Dalam membangun prestasi sepakbola, jelas Dali, dibutuhkan kompetisi berjenjang dan berkesinambungan. Artinya, pemain-pemain berkualitas dari hasil kompetisi tersebut sebagai fondasi dalam membangun Timnas Indonesia berkualitas.

“Bagaimana bisa membangun Timnas Indonesia yang kokoh, kalau PSSI tidak lagi memikirkan kompetisi usia muda tetapi cenderung mengejar popularitas lewat politisasi sepakbola," tegasnya.

"Kita harus memahami bahwa keberadaan pemain naturalisasi yang jumlahnya begitu banyak tidak bisa dijadikan jaminan meraih tiket ke Piala Dunia 2026. Makanya, saya menyebut PSSI telah membuat kesalahan besar dengan mempersempit pintu bagi anak negeri mendapat kesempatan menggunakan jersey berlambang Garuda. Inilah semua terjadi karena kita melupakan sejarah yang pernah dibuat Bung Karno,” tambahya.

Dali yang merupakan teman sekolah Prediden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri dan putra Tony Pogacnik, Damir Pogacnik saat di SMP Perguruan Cikini, Jakarta Pusat, termasuk salah satu yang meragukan pernyataan PSSI yang tidak mengeluarkan dana buat merekrut pemain naturalisasi.

"Kita bicara logika saja. Kecil kemungkinan pemain asal Belanda mau pindah warga negara dengan sukarela tanpa ada bayaran karena pemerintahnya menjamin tingkat kesejahteraan warganya. Perlu diingat Belanda itu merestui dwi kawarganegaraan," tandasnya.

Bagi Dali Tahir, tidak ada alasan PSSI jika menyebut kualitas pemain pemain lokal masih belum memadai. Erick Thohir, sebutnya, sebagai penanggungjawab atas prestasi sepakbola Indonesia harus mencarikan solusi bagaimana bisa meningkatkan kualitas mereka. “Kalau ini dijadikan alasan berarti PSSI tidak memiliki roadmap pembinaan sepakbola yang jelas. Misinya hanya mencari popularitas semata,” tutupnya. ***