
PEKANBARU - Bercerita tentang kehidupan Suku Anak Rawa memang tak pernah ada habisnya. Perabadan mereka yang semi-primitif membuat suku ini masih bertahan hingga sekarang. Jika dahulu mereka lah penguasa hutan dan sungai hingga ke muara, kini para Suku Anak Rawa kian terpinggirkan.
GoRiau.com sempat diajak tim dari Sustainable Social Development Partnership (Scale Up) untuk menyambangi keberadaan Suku Anak Rawa di Kampung Penyengat, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak-Riau. Salahsatu tempat yang dipilih adalah daerah Mato Rimbo, Dusun III (Sungai Mungkal). Di sana terdapat jejak keberadaan Suku Anak Rawa yang kebudayaannya disebut-sebut masih 'perawan'.
Dari Tanjung Pal (Dusun II), dibutuhkan waktu 1 jam lebih dengan menaiki Pompong ke Mato Rimbo. Ini bukan perkara mudah, karena Pompong kayu tidak hanya dihadapkan dengan riak gelombang, namun juga jajaran Kapal Tanker dan Tongkang milik perusahan-perusahaan besar. Maklum, di sini Suku Anak Rawa 'terkepung' oleh beberapa perusahaan super yang bergerak dibidang Migas dan perkebunan.
Di Mato Rimbo, GoRiau.com mendapat kesempatan bertemu dengan tetua suku bernama Pak Rendang. Soal usia jangan ditanya, apalagi membahas pengalaman hidup dan lika-liku Suku Anak Rawa. Konon Pak Rendang punya kemampuan ilmu gaib yang sudah tersohor, sekaligus dukun atau yang biasa disebut Bomo dari keturunannya. Dia juga dikatakan orang yang dapat berinteraksi dengan hewan buas seperti Harimau.
Dia tak banyak berkisah, mungkin karena memang pembawaannya. Meski begitu, jauh dari tempat duduknya, Pak Rendang sudah mengawasi gerak langkah kami yang hendak menuju rumahnya yang sederhana dan sejuk, beratap rumbio. Tak terhitung tahunnya Pak Rendang tinggal bersama istri dan putranya Erno (30) disitu, hingga kini Pak Rendang sudah punya beberapa orang cucu.
"Mato Rimbo itu kalau diartikan, Mato adalah sumber (air) kehidupan dan Rimbo itu hutan belantara (lebat). Jadi kehidupan di dalam hutan lebat," jawab Pak Rendang dengan logat campuran khas Suku Anak Rawa. Setelahnya, sang Bomo terkenal itu tak banyak lagi bercakap. Obrolan justru lebih dominan mengarah kepada anaknya Erno.
Erno ini sekaligus Ketua Rukun Kampung di sana. Kata dia di Mato Rimbo itu hanya berpenghuni lima Kepala Keluarga (KK) saja. "Kami di sini melaut cari ikan. Kadang ke ladang Sagu atau berburu ke hutan," buka Erno memulai obrolan bersama GoRiau.com dan tim dari Scale Up, serta didampingi Ketua Badan Pemusyawaratan Kampung bernama Pak Toko.
Selain kentalnya hidup kesukuan, di Mato Rimbo juga terdapat makam yang dikeramatkan. Makam itu tempat bersemayamnya Pak Gudang dan istrinya Minah. "Dia orang berjasa dan banyak membantu masyarakat. Usia makamnya sudah lama sekali, soalnya kata orang tua di sini, makam tersebut sudah ada sejak tahun 1970-an," urainya.
Anak-anak Mato Rimbo Tak Satupun yang Bersekolah
Dalam kesederhanaan kehidupan mereka, ada kisah kurang mengenakkan bagi pemukim Mato Rimbo. Tak seorang pun anak-anak di sini yang mengenyam bangku pendidikan. Mirisnya itu sudah berlangsung bertahun-tahun. "Di sini tak ada sekolah. Kalaupun mau, itu harus ke Sungai Mungkal naik Pompong 30 menit. Di sana ada lokal jauh SD 018," jawab Erno.
Diusianya yang masih belia, bocah Mato Rimbo sudah tangguh. Meski anak-anak, mereka telah diajak orangtuanya mencari ikan, berladang, berburu dan segudang pekerjaan orang dewasa demi menebus kekosongan waktu bersekolah. Itu dilakukan lantaran lantaran tak ada pilihan lagi. "Kalau sekolah maka terpisah dari kami orangtua (karena jauh). Kasian mereka di sana sendirian dan terkucil oleh kawannya," jawab Erno.
"Kalau seandainya di Mato Rimbo ada lokal (kelas, red) jauh kan bisa anak-anak belajar tanpa harus berpisah dari kami. Cuma itu tak pernah ada. Kalau kami yang pindah ke sana, lalu siapa yang menjaga ladang dan merawatnya. Jadi gini-gini sajalah kehidupan di sini, entah sampai kapan," ungkap dia dengan air wajah yang sedikit berubah. Bersambung II