PEKANBARU, GORIAU.COM - 'Tak akan melayu hilang di bumi'. Itulah pepatah yang selalu diucapkan tokoh-tokoh masyarakat Melayu Riau. Maklum saja, saat ini arus globalisasi dan westernisasi sangat pesat. Untuk itu, sangat perlu sebuah filter agar budaya melayu benar-benar ada.

Oleh karena itu, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) berupaya semaksimal mungkin agar adat istiada, tradisi dan upacara-upacara melayu tetap terjaga. Salah satu upayanya, memasukkan kebudayaan masyarakat setempat dalam pelajaran di sekolah-sekolah.

"Pada kurikulum 2013, ada namanya Muatan Lokal. Dari sini, kami berupaya untuk membuat modul-modul tentang budaya melayu," ujar Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR, Al Azhar kepada GoRiau.com beberapa hari yang lalu.

Untuk materi pelajaran, lanjut Al Azhar, itu diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Sebab, puak-puak di Bumi Lancang Kuning ini memiliki tradisi yang berbeda-beda. Misal, di daerah Riau pesisir adanya Mak Yong dan itu tidak ada di Riau Daratan.

"Kami hanya membuat modul sebagai acuan, untuk isinya kami serahkan ke setiap sekolah yang bersangkutan," katanya. Walau demikian, materi-materi tersebut tidak lari dari garis besarnya, seperti tulisan arab melayu.

Dalam pendidikan Muatan Lokal, selain tidak meninggalkan karya pengetahuan teknologi dan seni melayu, LAMR ingin memperlihatkan seperti apa karakter orang melayu tersebut.

"Intinya, kita ingin menengokkan bahwa orang melayu itu wataknya santun, ikhlas, rela berkorban dan bukan orang yang matrealistis ataupun kikir," ulasnya. Watak orang melayu tersebut, lanjut Al Azhar sesuai dengan pendidikan karakter yang sedang digaung-gaungkan pemerintah.

Lantas, bagaimana dengan tenaga pendidik, dimana di sekolah-sekolah yang ada di Riau tidak memiliki guru khusus budaya melayu? Menjawab tantangan itu, LAMR selalu memberikan penataran terhadap tenaga pendidik yang biasa mengajarkan Muatan Lokal.

"Kami berazam, meskipun tidak ada guru khusu budaya melayu, LAMR memprioritaskan penataran untuk mereka. Itu dilakukan setiap tahun," kata Al Azhar. Hal itu dilakukan supaya guru-guru yang menjadi tenaga pengajar memahami dan mampu memberikan materi-materi yang akan diajarkannya.(san)