SELATPANJANG, GORIAU.COM – Buku sejarah yang mengisahkan perjuangan rakyat Kepulauan Meranti masa revolusi fisik (1945-1949) terbitan perdana LAMR Meranti, mendapat apresiasi dari Bupati Kepulauan Meranti Irwan Nasir. Bupati Irwan dalam sambutannya pada peluncuran buku itu, mengatakan menyambut baik prakarsa penerbitan dan peluncuran buku tersebut.

''Dengan penerbitan buku ini kita harapkan dapat meningkatkan pengetahuan mengenai pahit getirnya perjuangan para pendahulu kita,'' ujar Bupati Kepulauan Meranti, Irwan Nasir saat peluncuran buku, Rabu (28/2/2013) malam.

Buku yang berjudul “Tanah Jantan Yang Melawan'' yang mengambil kisah perjuangan di Telaga Bening, merupakan salah satu tempat bersejarah perjuangan rakyat Meranti itu.

''Dari buku itu diketahui tidak sedikit masyarakat Meranti yang ikut mengukir sejarah perjuangan bangsa ini dan sedemikian tingginya semangat juang dan rela berkorban bagi kepentingan bangsa dan negaranya,'' ujarnya.

“Mengutip pandangan Datuk Cendikia Hikmatullah Mahyudin Al Mudra (Ketua Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu) menyatakan, membaca buku ini, kita menjadi paham bahwa rakyat Meranti juga memiliki saham besar terhadap berdirinya republik ini. Perjuangan di Tanah Jantan adalah bagian dari perjuangan Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat. Oleh karena itu, Meranti harus maju dan mendapat perhatian yang sama seperti daerah lainnya di Indonesia,” sebut bupati.

Bupati mengharapkan, LAMR Meranti terus melakukan penelitian dan pengkajian tentang sejarah perjuangan pembentukan Kabupaten Kepulauan Meranti. Harapan ini tak hanya agar generasi penerus nantinya mengenal sejarah. Namun juga untuk menjaga kemurnian dan menghindari terjadinya bias terhadap sejarah tersebut.

''Kita khawatir, jika pengkajian, penelitian dan penulisan buku tentang sejarah pembentukan pemekaran kabupaten ini dibiarkan terlalu lama, sejarah tersebut menjadi bias. Dan tidak menutup kemungkinan terjadinya bias-bias kepentingan. Hal seperti ini yang harus kita hindari,” harap Irwan lagi.

Ketua Umum LAMR Kabupaten Kepulauan Meranti, H Riduan Hasan dalam sambutannya menyebutkan dalam upaya menciptakan bangsa yang besar, bangsa tersebut tidak hanya melihat ke depan, sehingga lupa melihat apa yang terjadi hari ini dan masa yang telah lalu.

“Melupakan masa lalu adalah melupakan jati diri. Mengkaji hal ini amatlah penting, sebab berkaitan erat dengan pembentukan jati diri sebagai bangsa yang besar, bangsa besar adalah bangsa yang mengenang jasa dari pendahulunya,” sebut Riduan.

Sementara Ketua Bidang Penelitian, Pengkajian dan Penulisan, LAMR Kepulauan Meranti, Nuzuar menyebutkan, penulisan buku sejarah ini bertujuan untuk membuktikan bahwa bangsa Melayu adalah bangsa yang turut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

“Inilah yang akan membuktikan bahwa melayu ade, melayu itu eksis, melayu itu tidaklah seperti yang sebut-sebutkan selame ini. Apa yang kita lakukan dan alami hari ini, merupakan sumbangan untuk sebuah hari jauh di masa depan yang mungkin kita sendiri tidak akan melihatnya,” terang Nuzuar.

Buku “Tanah Jantan Yang Melawan” ditulis Afrizal Cik berisikan perjuangan rakyat Kabupaten Kepulauan Meranti. Setelah sekian lama silih berganti dijajah oleh tentara Belanda dan Jepang. Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 awal kemerdekan yang dicita-citakan, meskipun berita kemerdekaan itu terlambat didengar oleh masyarakat. Pada 17 Oktober 1945, bertempat di pelataran kolam Telaga Bening, di sekitar komplek makan Datuk Bandar Konel, diadakan upacara pengibaran bendera Merah Putih untuk kali pertama di Tanah Jantan ini.

Namun, sayang kebahagiaan mereka terusik, bangsa penjajah kembali ingin merampas hak-hak penduduk pribumi. Anak Watan, anak pribumi, para pejuang dan pasukan TNI tak tinggal diam, mereka bersatu padu memberikan perlawanan mengusir pasukan Inggris yang membonceng Belanda masuk ke Tanah Jantan. Namun dengan garang, rakyat Kepulauan Meranti berhasil membantai pasukan Belanda, dan memaksa mundur dari Tanah Jantan. (kpt)