JAKARTA - Perbatasan darat antara Uni Eropa dan Afrika di Ceuta menghadapi tekanan berat setelah sekitar 60.000 migran asal Maroko menerobos masuk dalam dua hari terakhir. Setelah menghadapi aparat keamanan, gas air mata dari sisi Maroko, serta tantangan fisik berenang berjam-jam, sekitar 48.300 orang akhirnya memutuskan kembali secara sukarela ke Maroko pada Jumat (30/7/2026).

Eskalasi di lapangan berujung pada penemuan 57 jenazah di wilayah Spanyol. Sebagian besar korban kehilangan nyawa akibat tenggelam, sementara lainnya tewas terhimpit saat berusaha menaiki struktur pemecah gelombang perbatasan.

Kelelahan Fisik dan Dehidrasi Massal

Para migran yang berhasil menginjakkan kaki di Ceuta dihadapkan pada realitas ketiadaan akses logistik dasar. Rasa lapar dan kelelahan fisik membuat ribuan pemuda memilih putar balik masuk ke wilayah Maroko melalui pos pemeriksaan resmi maupun celah pagar.

"Sejujurnya saya sendiri tidak tahu kenapa saya datang ke sini, dan sekarang saya pulang," ucap seorang pemuda dari Tangier.

"Sejak makan siang kemarin saya belum makan lagi, padahal saya membawa sedikit uang. Apa yang kami lakukan ini bukan sesuatu yang baik, juga tidak menyenangkan," paparnya lebih lanjut.

Hal serupa dialami Ayman, seorang tukang cukur asal Larache yang masuk setelah berenang selama lima jam.

"Tidak ada makanan di dalam Ceuta, dan kami diusir dengan kasar oleh tentara Spanyol," terangnya.

Sikap Tegas Negara Tetangga

Krisis perbatasan ini memicu intervensi negara-negara tetangga. Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez merespons cepat dengan menyiagakan patroli udara, jalur kereta api, serta melipatgandakan personel polisi di perbatasan Spanyol hingga lima kali lipat per Sabtu (1/8/2026).

Italia mengambil langkah yang lebih drastis dengan menangguhkan sementara Perjanjian Schengen terhadap Spanyol. Penangguhan ini secara otomatis membatasi jalur udara dan laut. Meski negara Uni Eropa umumnya dilarang memberlakukan pemeriksaan perbatasan internal kawasan Schengen, aturan tersebut memiliki klausul pengecualian untuk kondisi luar biasa. Spanyol sendiri menilai kebijakan Italia tersebut menyalahi kesepakatan kolektif.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez terjun langsung ke Ceuta, Jumat (30/7/2026). Ia memastikan instrumen negara bergerak cepat memulangkan para pendatang ilegal, didukung penuh oleh koordinasi diplomatik dengan Pemerintah Maroko.***