PEKANBARU – Anggota Fraksi Golkar DPRD Riau, Yanti Komalasari angkat bicara terkait tudingan sejumlah pihak bahwa Gubernur Riau, Syamsuar, tidak mampu menuntaskan persoalan kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng.

Sebelumnya, mahasiswa melakukan aksi unjuk rasa di DPRD Riau, dimana salah satu sorotan mahasiswa adalah kelangkaan minyak goreng dan kesejahteraan guru honor.

Persoalan minyak goreng, kata Yanti, merupakan permasalahan tingkat nasional dan tidak hanya terjadi di Provinsi Riau saja, tapi juga terjadi di provinsi lain.

"Kelangkaan ini terjadi kan karena ada permainan mafia yang menimbun, saat pemerintah memberikan subsidi. Ketika subsidi dicabut, stok minyak goreng langsung banyak, bahkan minyak curah pun sekarang jadi kemasan," ujar Yanti.

Gubernur Syamsuar, baik sebagai kepala pemerintah di Provinsi Riau maupun sebagai Ketua DPD Golkar Riau sudah membuat banyak program, terutama program pasar murah yang terus dilakukan di beberapa titik.

Diantaranya, operasi pasar murah di Pelabuhan Pelindo Lama pada tanggal 24 Februari, dan di Lapangan Puskopkar Pandau Permai Kampar. Kemudian ada juga kunjungan ke pasar 19 Januari, 2 Februari, dan 16 Maret lalu.

Tak hanya itu, operasi pasar juga dilakukan di Inhu dan Inhil pada 29 Maret, di Rohil dan Dumai 31 Maret, Pelalawan pada 5 April, Siak pada 7 April, serta Pekanbaru tanggal 12-13 dan 19-20 April.

Selain itu, juga ada program minyak curah yang dipusatkan pendistribusiannya di Dumai dengan kapasitas 2000 ton/minggu, yang pengelolaannya berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Beberapa kabupaten kota bahkan sudah mengajukan pemesanan.

"Ini merupakan bentuk upaya yang dilakukan untuk meringankan beban masyarakat, jadi tidak benar kalau dibilang gubernur tidak bekerja apalagi gagal. Pak Syamsuar itu sudah bekerja keras, mari kita hargai apa yang sudah dilakukannya," kata Yanti.

Terkait nasib guru honorer, Pemprov Riau juga sudah melakukan rapat-rapat koordinasi dengan pihak terkait yang leading sector nya adalah Dinas Pendidikan Provinsi Riau.

"Bahkan, Pak Gubernur sudah membuat tim khusus untuk memastikan kesejahteraan guru honor ini. Mungkin, kinerja dari tim ini belum begitu terpublish dengan baik, sehingga banyak yang tidak tahu," lanjutnya.

Terkait kinerja Gubernur yang menjadi tuntutan mahasiswa lainnya, Yanti memaklumi bahwa selama dua tahun belakangan ini dunia dilanda oleh pandemi Covid-19.

"Ini kan sekarang sedang masa pemulihan. Segala sesuatu itu kan tidak seperti membalikkan telapak tangan, semuanya harus melalui proses. Jangan ada oknum tertentu yang mengambil momen untuk menjatuhkan Pak Syam," tutupnya. (advertorial)