
KOPENHAGEN - Sebuah helikopter militer Denmark nyaris menjadi korban tembakan suar darurat yang dilepaskan oleh kapal perang Rusia saat melintas di atas perairan internasional Laut Baltik. Manuver berisiko tinggi tersebut memicu reaksi cepat dari otoritas Kopenhagen yang langsung memanggil perwakilan diplomatik Moskow.
Insiden Pemotretan Rutin
Peristiwa ini berlangsung di lepas pantai Gedser pada Senin (13/9/2026). Komando Pertahanan Denmark mencatat, helikopter saat itu tengah menjalankan tugas pemantauan visual standar.
"Salah satu helikopter Fennec milik Angkatan Udara hari ini ditembaki dengan suar saat sedang melakukan operasi fotografis rutin terhadap sebuah kapal fregat Rusia, yang berada di perairan internasional di lepas pantai Gedser," urai Angkatan Bersenjata Denmark dalam keterangan resminya, Senin malam.
Laporan militer menyebutkan bahwa proyektil piroteknik—yang lazimnya dipakai sebagai sinyal bahaya maritim—ditembakkan sebanyak dua kali ke arah udara.
"Dua suar ditembakkan ke arah helikopter. Salah satu suar melintas dalam jarak sangat dekat dengan helikopter," terang pernyataan tersebut.
Insiden udara ini bertepatan dengan jatuhnya sebuah drone asing di wilayah udara Lithuania akibat ditembak oleh jet tempur NATO, menambah daftar insiden keamanan di sayap timur aliansi tersebut di tengah konflik Rusia-Ukraina.
Protes Keras Lewat Jalur Diplomatik
Menanggapi ancaman terhadap armada militernya, Menteri Luar Negeri Denmark, Lar Lokke Rasmussen langsung mengambil langkah tegas. Ia memanggil Duta Besar Rusia untuk meminta pertanggungjawaban atas kejadian di Laut Baltik tersebut.
"Oleh karena itu, saya telah memanggil Duta Besar Rusia untuk membahas insiden tersebut," tegas Rasmussen, Selasa (15/9/2026).
Pemerintah Denmark menilai aksi penembakan suar ke arah pesawat yang sedang mengudara adalah sebuah pelanggaran batasan keamanan. Rasmussen memperingatkan bahwa tindakan Moskow semakin keluar dari batas kewajaran pelayaran internasional.
"Hal ini sama sekali tidak dapat diterima dan dapat membahayakan nyawa manusia," kecamnya.
Kedutaan Besar Rusia belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pemanggilan duta besar mereka maupun kronologi insiden yang melibatkan kapal fregat tersebut.***