
PEKANBARU – Keputusan pelatih PSPS Pekanbaru Aji Santoso untuk tidak menurunkan Asir Asiz sejak menit awal saat menghadapi Persiraja Banda Aceh pada laga penutup putaran kedua Liga 2 2025/2026, Sabtu (31/1/2026), patut dipertanyakan. Pilihan taktis tersebut terbukti berdampak langsung terhadap tumpulnya permainan PSPS di babak pertama dan berujung pada kekalahan 2-4 di Stadion H. Dimurthala.
Tanpa Asir Asiz di starting lineup, PSPS Pekanbaru kesulitan mengembangkan permainan. Sepanjang babak pertama, Askar Bertuah hanya mampu mencatatkan dua tembakan, dengan satu yang mengarah ke gawang, serta penguasaan bola yang berhenti di angka 40 persen. Pola serangan PSPS tampak mudah dibaca dan minim penetrasi, terutama dari sisi sayap.
Situasi itu kontras dengan performa PSPS setelah Asir Asiz masuk pada awal babak kedua. Winger berusia 22 tahun tersebut langsung memberi dimensi berbeda pada permainan. Serangan PSPS menjadi lebih agresif, cepat, dan terarah. Asir tidak hanya aktif membuka ruang, tetapi juga menjadi penyelesai akhir dengan mencetak dua gol.
Secara statistik, kehadiran Asir membawa perubahan signifikan. Pada babak kedua, penguasaan bola PSPS meningkat menjadi 54 persen. Jumlah tembakan melonjak menjadi delapan kali, dengan enam di antaranya mengarah tepat ke gawang. Meski gagal menghindari kekalahan, PSPS menunjukkan performa yang jauh lebih kompetitif dibandingkan babak pertama.
Keputusan untuk menyimpan Asir di bangku cadangan menjadi semakin sulit dipahami jika melihat catatan sepanjang musim. Dari 18 pertandingan yang telah dijalani PSPS Pekanbaru, Asir Asiz hanya satu kali tidak tampil sebagai starter, yakni saat menghadapi PSMS Medan pada September 2025, ketika ia diturunkan dari bangku cadangan. Selebihnya, Asir hampir selalu menjadi pilihan utama dan berperan penting dalam produktivitas tim.
Dalam tiga laga terakhir, kontribusi Asir juga konsisten. Ia mencetak gol saat PSPS menahan imbang Adhyaksa Banten FC 1-1, mencetak gol pembuka saat PSPS menang 2-0 atas Persekat Tegal, dan kembali mencetak dua gol ke gawang Persiraja. Rangkaian performa tersebut menegaskan status Asir sebagai pemain kunci PSPS musim ini.
Di sisi lain, PSPS juga memiliki opsi lain yang patut dipertimbangkan. Natanael Siringo Ringo menunjukkan potensi besar lewat keberaniannya melepaskan tembakan dari luar kotak penalti dan mobilitas tinggi di lini tengah. Namun, peran Natanael tampak lebih optimal ketika dikombinasikan dengan Asir, bukan menggantikannya sejak awal laga.
Dengan sembilan pertandingan tersisa di putaran ketiga Liga 2, PSPS Pekanbaru tidak memiliki banyak ruang untuk bereksperimen. Terlebih, posisi klasemen membuat PSPS hanya akan memainkan empat laga kandang dari sembilan pertandingan.
Dalam kondisi tersebut, keputusan taktis Aji Santoso akan sangat menentukan. Menyimpan pemain yang terbukti memberi dampak signifikan sejak awal laga berpotensi kembali menjadi bumerang. Jika PSPS ingin menjaga konsistensi dan daya saing di putaran ketiga, Asir Asiz tampaknya tidak lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan sejak menit pertama. ***