PEKANBARU, GORIAU.COM - Setiap anak terlahir dengan potensinya masing-masing. Mari keluarkan mereka dari 'penjara' kekangan untuk mengembangkan apa yang mereka punya, baik bidang akademik maupun non-akademik seperti seni dan olahraga. Generasi emas akan terlahir dari berbagai potensi yang mereka miliki.

"Jangan kekang kemauan anak selagi itu positif, karena potensi yang sudah mereka miliki merupakan modal besar untuk menghadapi masa depan. Jangan jadikan anak menjadi sesuatu atas dasar paksaan dari guru dan orang tua," kata Maiwari, guru salah satu Sekolah Dasar di Kecamatan Kota Gasib, Kabupaten Siak.

Untuk itu, jadikan anak sesuai dengan potensinya, bukan atas paksaan dari orang tua. Perlu dipahami, bahwa potensi itu adalah bawaan dari lahir, namun ada juga produk dari proses pendidikan. Jika anak mempunyai bakat tetapi tidak dididik dengan tepat, maka potensinya tidak akan tumbuh dan berkembang optimal.

Demikian sebaliknya, jika anak tidak berbakat tetapi dipaksakan oleh guru atau orang tuanya, potensinnya pun tidak akan tumbuh dengan baik. Pasti akan ada konflik internal dalam jiwa si anak. Karena itulah, harus serasi dan seimbang antara potensi bawaan anak dengan proses pendidikannya.

"Pendidikan melalui peran sekolah harus mampu mengidentifikasikan potensi anak didiknya melalui pilihan ekstra kurikuler. Setelah mengenal potensi dan bakat dirinya, maka tugas pendidikan di sekolah adalah menumbuhkembangkan potensi tersebut," lanjut Maiwari.

Untuk itu, perlu adanya pembelajaran ekstrakurikuler yang efektif dan efisien sebagai upaya menumbuhkembangkan bakat dan minat anak. Kemudian berikan peluang kepada anak didik untuk mengikuti perlombaan guna mengukur potensi dirinya

Orang tua dan sekolah harus sinerji dalam mengembangkan mental dan kreativitas anak sebagai dasar menghadapi perubahan waktu dan lingkungan sekitar. Tidak ada yang lebih berpengaruh besar selain keberadaan orang tua dan dunia pendidikan untuk membentuk karakter sang anak.

"Dunia pendidikan merupakan salah satu jalan untuk menumbuhkankembangkan apa yang menjadi dasar keberadaan potensi anak yang terpendam dalam diri masing-masing. Sekaligus membentuk karakter sang anak untuk memahami lingkungan positif dan negatif yang akan mereka temukan sehari-hari," tukas Maiwari.(tri)