BAGANSIAPIAPI - Warga Panipahan Rokan Hilir Riau berharap pemerintah tetap membuka akses transportasi laut dari dan ke Panipahan ke Bagansiapiapi, ibukota Rokan Hilir. Dengan penutupan rute ferry Bagansiapiapi - Panipahan, secara otomatis membuat Panipahan terisolir sementara jalur terdekat hanya menggunakan ferry.

Penutupan jalur ferry ini berlaku sejak 24 April 2020 hingga 31 Mei 2020 sesuai dengan pengendalian transportasi selama masa mudik Idul Fitri 1441 Hijriah yang merupakan realisasi Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor 25 Tahun 2020.

''Imbasnya, masyarakat Panipahan Kecamatan Pasir Limau Kapas terisolir dengan daerah luar. Selama ini mereka hanya mengandalkan transportasi laut dari dan ke Panipahan,'' ungkapkan Chaidir (40) warga Panipahan, Minggu (26/4/2020).

Dikatakan, selama ini jarak tempuh Bagansiapiapi menggunakan kapal ferry hanya satu jam lebih, kini harus menempuh jalan pesisir dengan kondisi belum layak dilalui. Waktu tempuh bisa mencapai 5 atau 6 jam. Dan jika memilih jalur Labuhan Batu Sumut ke Bagansiapiapi bisa 8 jam.

Dengan tidak beroperasionalnya kapal ferry dari dan ke Panipahan, masyarakat Kota terapung Panipahan sudah terisolir dengan daerah luar. ''Panipahan Darat berbatasan dengan Panai Hilir, jadi inilah rute terdekat untuk keluar Panipahan dengan jasa ojek,'' jelas Chaidir.

Sementara itu Mustar Manurung, warga Panipahan sekaligus jurnalis dan penggiat sosial media yang dihubungi terpisah, Minggu (26/4/2020) menyebutkan, jika memungkinkan untuk hajat hidup orang banyak, dan mengingat hubungan pemerintahan, hendaknya ferry Panipahan - Bagansiapiapi tetap dibuka.

''Kalau boleh ferry Panipahan - Bagansiapiapi tetap ada dan buka, hubungan pemerintahan kecamatan dengan kabupaten lancar. Ini ibarat hubungan ayah dengan anak sebagai pusat pemerintahan,'' jelas Mustar Manurung.

Menurutnya, jalur tersebut dibutuhkan untuk jalannya roda pemeritahan desa dan kecamatan ke kabupaten. ''Panipahan ini dengan Bagansiapiapi terkait pemerintahan, ASN, Dinas, OPD, instansi vertikal yang berurusan ke Bagansiapiapi ibu kota kabupaten,'' ucapnya.

''Berbeda dengan Tanjung Balai Asahan yang hubunganya bisnis. Jadi kita berharap transportasi laut ke Bagansiapiapi ada. Mungkin seminggu 2 kali, tinggal diperketat di pintu keluar masuk pelabuhan penumpang. Kita memohon kepada pemerintah untuk membuka kembali jalur ferrry Panipahan - Bagansiapiapi dengan melaksanakan protokol kesehatan,'' tutup Mustar. ***