
JAKARTA, GORIAU.COM - Diakuinya kepengurusan Dewan Pengurus Pusat Partai Golkar pimpinan Agung Laksono oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), bakal berimbas pada sikap politik kader beringin di daerah. Posisi Agung sekarang sedang diatas angin.
Sementara di satu sisi, sebentar lagi akan digelar pemilihan kepala daerah serentak pada Desember 2015. Potensi eksodus cukup besar. Dari tadinya mendukung Aburizal, beralih ke Agung Laksono. Mendekati pemilihan serentak, pada akhirnya kader beringin akan pragmatis. Apalagi putusan pengadilan akan memakan waktu lama.
Demikian dikatakan pengamat politik dari Universitas Padjadjaran Idil S Akbar mengatakan itu di Jakarta, Jumat 20 Maret 2015. Menurut Idil, kabar kepindahan kader beringin yang semula mendukung Ical lalu berpindah merapat ke kubu Agung Laksono, sudah diprediksi. Karena pada akhirnya, mereka akan realitis dan pragmatis.
''Kabar kepindahan kader Golkar dari Ical ke Agung menurut saya semata adalah persoalan kepentingan politik para kader tersebut. Mereka mungkin saja melihat bahwa sudah semakin kecil peluang Ical bisa memimpin Golkar,'' kata Idil.
Terlebih lagi, kata dia, manuver politik yang dilakukan Agung Laksono yang terus menjalin komunikasi dan hubungan dengan pemerintah serta partai pendukungnya, cukup intens. Belum lagi sejak awal Golkar selalu identik dengan partai pemerintah.
''Karena itu sulit bagi mereka untuk keluar dari tradisi tersebut," katanya.
Koalisi Merah Putih (KMP) pun menurut Idil, sedang mengalami degradasi dukungan politik, khususnya pasca PPP dan Golkar "berhasil" dipecah. Kedepan, KMP kemungkinan sudah tak lagi bisa solid. Kemungkinan besar akan menjadi kekuatan minoritas di parlemen. ''Tak lagi digjaya," katanya. (gus)