
SELATPANJANG - Pemerintah menggembar-gemburkan agar desa rawan terjadi Kebakaran Lahan dan Hutan (Karlahut) membangun sekat kanal (kanal blocking). Karena, sekat kanal ini dianggap paling efektif dalam mencegah dan menangani Karlahut.
Untuk di Kepulauan Meranti, pembuatan sekat kanal ini mendapat apresiasi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Bahkan, Jokowi ikut membangun dan menggelontorkan dana ratusan juta di Sei Tohor Kecamatan Tebingtinggi Timur, November 2014. Lalu, karena dianggap sangat efektif untuk mengantisipasi terjadinya Karlahut, Presiden RI mememrintahkan agar pembangunan sekat kanal diperbanyak.
Bercerita tentang sekat kanal ini, menurut Humas PT NSP Setyo Budi Utomo, rupanya jauh sebelum ada perintah dari Presiden RI, mereka telah membangun sebanyak 152 unit kanal blocking di lahan perusahaan yang beroperasi di Tebingtinggi Timur. Menurut Budi, sekat kanal ini digunakan untuk mengontrol air agar tanaman sagu tidak kekurangan (air, red). "Kontrol air itu penting agar sagu tumbuhnya bagus," ujar Budi kepada GoRiau.
Dijelaskan Budi, setidaknya air yang mereka kontrol itu tidak boleh berada di bawah 20 cm dari permukaan gambut. Sebab, andai terjadi kekeringan (air di kanal berkurang banyak, tumbuhnya pohon sagu dipercayakan tidak akan seperti diharapkan). "Kita kontrol air di kanal antara 10 sampai 20 cm dari permukaan," ujar Budi.
Rupanya, selain untuk tanaman, air yang banyak ini juga dimanfaatkan sebagai sumber memadamkan api andai terjadi kebakaran. Dampak positifnya sangat dirasakan ketika memasuki musim kering tahun 2016. Dimana, PT NSP tidak kekurangan air di kanal serta bisa men-zero kan api. "Patroli lancar, sumber air banyak. Kalau ada kebakaran tinggal diambil air di kanal," tambah Budi lagi.(***/zal)