
DUNIA olahraga selalu mengajarkan satu hal penting: pertandingan boleh selesai, tetapi persaudaraan harus tetap hidup. Dalam arena, lawan adalah bagian dari proses pembelajaran. Di luar arena, semua kembali menjadi saudara yang dipersatukan oleh kecintaan pada cabang olahraga yang sama. Nilai itu pula yang seharusnya menjadi napas bagi perjalanan Taekwondo di Riau hari ini.
Selama lebih dari satu dekade terakhir, Taekwondo di Riau mengalami dinamika organisasi yang tidak sederhana. Sejak sekitar tahun 2013, hadir wadah lain yang dikenal sebagai Universal Taekwondo Indonesia Profesional (UTI PRO). Pada masanya, cukup banyak insan Taekwondo yang bergabung ke dalam organisasi tersebut. Sebagian datang karena pertimbangan pembinaan, sebagian karena kebutuhan ruang berlatih, sebagian lagi karena melihat adanya harapan baru.
Namun sesungguhnya, di balik beragam pilihan itu, niat dasarnya hampir sama: tetap berlatih, tetap membina murid, dan tetap menjaga api Taekwondo agar tidak padam.
Kini keadaan bergerak ke fase baru. Banyak unsur yang dahulu berada di luar Taekwondo Indonesia (TI) mulai berikhtiar kembali berhimpun ke rumah besar yang sama. Ini adalah momentum penting. Momentum rekonsiliasi. Momentum pendewasaan. Momentum menutup bab lama dan membuka halaman baru.
Sayangnya, dalam praktik di lapangan, proses integrasi itu belum selalu berjalan mulus.
Masih terdengar keluhan tentang penyetaraan sertifikat yang lambat, informasi yang tidak seragam, prosedur yang membingungkan, bahkan adanya murid yang diminta mengulang dari sabuk awal padahal memiliki riwayat latihan, kompetensi riil dan jenjang yang jelas. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya soal administrasi. Tetapi bagi murid, orang tua, dan pelatih, ini menyangkut waktu, biaya, motivasi, dan masa depan pembinaan.
Di sinilah kita perlu jujur, organisasi olahraga tidak boleh terjebak pada logika birokrasi yang kaku. Ia harus hidup dengan semangat pelayanan. Jabatan pengurus bukan mahkota kehormatan. Ia adalah amanah untuk memudahkan jalan atlet. Jika kehadiran pengurus justru membuat anggota bingung, murid tertunda berkembang, dan dojang kehilangan semangat, maka ada sesuatu yang perlu dibenahi.
Kita harus berani mengatakan bahwa Taekwondo Riau terlalu berharga untuk dihabiskan pada persoalan internal yang berlarut-larut. Musuh utama kita bukan sesama dojang. Bukan sesama pelatih. Bukan mereka yang pernah berbeda organisasi. Musuh kita adalah rendahnya prestasi, minimnya kompetisi berkualitas, kurangnya regenerasi atlet, lemahnya pembinaan usia dini, serta budaya organisasi yang lebih sibuk mengurus ego daripada mengurus kemajuan.
Anak-anak yang datang ke dojang tidak datang untuk belajar konflik. Mereka datang untuk belajar disiplin. Mereka datang untuk belajar hormat. Mereka datang untuk menjadi lebih kuat secara fisik dan mental. Mereka datang dengan impian sederhana: naik tingkat, ikut kejuaraan, membawa medali, membanggakan orang tua.
Jangan biarkan mereka menjadi korban dari urusan yang bukan milik mereka.Riau sesungguhnya memiliki modal besar. Kita punya banyak pelatih berpengalaman. Kita punya dojang-dojang yang hidup. Kita punya anak-anak bertalenta. Kita punya sejarah pembinaan yang tidak kecil. Tetapi semua potensi itu hanya akan menjadi angka statistik bila tidak dikelola dengan persatuan dan kebesaran hati.
Karena itu, sudah saatnya seluruh unsur Taekwondo di Riau mengambil langkah baru.Pertama, percepat proses integrasi bagi mereka yang ingin kembali bergabung. Jangan mempersulit saudara yang ingin pulang.Kedua, seragamkan kebijakan dari pusat sampai daerah agar tidak menimbulkan tafsir berbeda-beda di lapangan.
Ketiga, tempatkan kepentingan murid dan atlet di atas sentimen masa lalu.
Keempat, bangun komunikasi yang sehat antar pengurus, pelatih, dan dojang.
Kelima, jadikan prestasi sebagai agenda utama, bukan politik organisasi.
Taekwondo adalah seni bela diri yang menjunjung kehormatan. Ia bukan arena saling menjatuhkan. Ia mengajarkan bahwa kekuatan terbesar bukan pada tendangan, tetapi pada kemampuan mengendalikan diri.
Dalam konteks organisasi, pengendalian diri itu bernama kebijaksanaan. Mari menyalakan cahaya kita masing-masing tanpa memadamkan cahaya orang lain. Tidak ada dojang yang maju sendirian. Tidak ada organisasi yang besar dengan memelihara sekat. Tidak ada prestasi yang lahir dari suasana batin yang keruh. Jika kita bersatu, atlet akan tumbuh. Jika kita adil, kepercayaan akan kembali. Jika kita fokus membina, Taekwondo Riau akan berjaya.
Sudah saatnya kita berhenti bertanya soal siapa dulu berada di mana. Lebih penting bertanya: ke mana Taekwondo Riau akan dibawa hari ini. Dan jawabannya seharusnya satu: menuju prestasi, persaudaraan, dan kehormatan bersama. ***
Irfan Fadli, S.P., M.MA adalah insan Taekwondo aktif sejak tahun 1992, mantan pengurus TI Riau, mantan Ketua UTI PRO Riau, serta pegiat olahraga di Provinsi Riau.