JAKARTA - Pemerintah Inggris menyampaikan kecaman atas komentar Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu yang menggunakan frasa Republik Islam Inggris. Keterangan tersebut dilontarkan sang perdana menteri saat mengkritik arah kebijakan Inggris terhadap Israel dalam sebuah wawancara radio militer pada Kamis (13/8/2026).

Juru bicara pemerintah Inggris menegaskan bahwa penggunaan narasi yang kerap dikaitkan dengan klaim sayap kanan ekstrem dan isu Islamofobia tersebut tidak sejalan dengan hubungan antarnegara.

"Komentar-komentar ini sama sekali tidak dapat diterima, dan kami telah menyampaikan hal tersebut kepada pemerintah Israel," urainya dalam pernyataan resmi pada Jumat (14/8/2026).

Pangkal masalah ini muncul ketika Netanyahu membahas dukungan cucu mantan PM Winston Churchill terhadap Israel dalam Perang Arab-Israel 1967. Ia menyoroti perbedaan situasi perpolitikan di Inggris saat ini.

"Apakah Anda menjumpai hal seperti itu sekarang? Ada yang pernah berkata bahwa Republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir adalah Republik Islam Inggris," paparnya sambil tersenyum.

Netanyahu juga menyinggung kondisi keamanan negaranya dengan menambahkan bahwa pihaknya akan memastikan tidak ada entitas serupa di Iran.

Guna meluruskan polemik tersebut, juru bicara pemerintah Israel, David Mencer berbicara kepada radio BBC. Ia berdalih bahwa komentar pimpinannya bukanlah klaim sepihak, melainkan kutipan dari tokoh politik AS.

"Dia mengutip pernyataan orang lain. Dia hanya mengutip apa yang telah disampaikan oleh Wakil Presiden AS," terangnya.

Pernyataan yang dikutip Netanyahu merujuk pada ucapan Wakil Presiden AS, JD Vance dalam Konferensi Keamanan Munich 2024, yang sebelumnya juga sempat memicu kemarahan para pejabat senior di Inggris.

Kondisi politik antara kedua negara memang menegang sejak tahun lalu ketika Inggris mengambil langkah resmi untuk mengakui negara Palestina. Kebijakan ini dinilai memengaruhi cara pandang Israel terhadap Inggris. Isu ini dipertegas dengan sikap PM Inggris, Andy Burnham yang baru-baru ini melayangkan kritik terkait penanganan isu Gaza. Burnham menilai pendahulunya, Keir Starmer terlalu lemah dalam menekan Israel untuk mengakhiri operasi militer di Jalur Gaza.***