PEKANBARU - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau, Prof Dr Nazir Karim, menyambut baik kedatangan Imam Besar FPI, Habib Muhammad Rizieq Shihab pada tanggal 10 November 2020 mendatang dan berharap ada kedamaian pasca kedatangan Rizieq.

"Kita sambut kehadiran beliau dengan suka cita. Walau ada kesulitan tapi Allah memudahkan kepulangannya ke Indonesia, mudah-mudahan ada rekonsiliasi di negeri kita, terutama bagi orang-orang yang suka memojokkan Islam, karena tidak bisa dipungkiri ini penyakit yang ada selama ini," ungkap Nazir kepada GoRiau.com, Minggu (8/11/2020).

Apalagi di tingkat dunia, sentimen ke Islam akan mulai berkurang pasca tumbangnya Donald Trump dari singgasana Presiden Amerika Serikat dengan terpilihnya Joe Biden dalam Pilpres Amerika Serikat.

"Kemenangan Joe Biden ini diharapkan juga membawa angin segar ke Islam. Saya terharu juga dia mengutip hadist Nabi dan juga akan memperlakukan Islam selayak-layaknya," tambahnya 

Habib Rizieq, kata Nazir, selama ini sudah berjuang membantu pemerintah dalam memberantas hal-hal negatif, hanya saja Presiden Jokowi terpengaruh oleh orang-orang sekelilingnya, ini harus menjadi evaluasi di sisa masa jabatan Jokowi karena sengketa selama ini tidak ada untungnya bagi Indonesia.

“kita sesuai dengan apa yang diinginkan Allah SWT, yaitu menciptakan kedamaian dan ketenangan di muka bumi, tapi kalau diusik terus dan agama Allah dipermainkan, ya kita tidak bisa diam juga," tuturnya.

Jika agama Islam diganggu, sambungnya, maka akan banyak orang yang siap berjihad, tentunya jihad dalam artian positif. Karena, dalam agama sendiri muslim tidak boleh menyerang duluan, tapi kalau diserang tidak boleh diam.

"Rugi bangsa kita kalau terus dibangkitkan permusuhan, saya rasa buzzer sudah jadi persoalan besar di rezim ini, makanya rekonsiliasi harus bisa dilakukan dengan baik," tegasnya.

Lebih jauh, Nazir menyayangkan adanya beberapa pernyataan Menkopolhukam, Mahfud MD yang dinilai kehilangan wibawa seorang akademisi, karena terkesan mengdiskreditkan pihak-pihak yang berseberangan dengan pemerintah.

"Mungkin dia menerima info yang salah, dia harus introspeksi diri, dia kan Menkopolhukam, tenang atau tidaknya negara ini ada perannya. Mudah-mudahan ada yang memberitahu dia sehingga bisa kembali ke Mahfud yang dulu," tutupnya.***