PEKANBARU, GORIAU.COM - Massa yang ngotot ingin menguasai lahan seluas 2.800 hektare milik PT Perkebunan Nusantara V ini benar-benar memiliki jiwa 'patriolis'. Mereka mempersiapkan rencana pertempuran mirip dengan gaya perjuangan pahlawan kemerdekaan RI 1945.

Kelompok mengatasnamakan masyarakat ini bahkan melibatkan keris dan bambu runcing untuk memperebutkan sesuatu yang menurut mereka adalah hak 'harga mati'.

Keris dahulu, sewaktu zaman kerajaan merupakan senjata saksi mandraguna dalam melawan penjajah. Begitu juga dengan bambu runcing yang digembar-gemborkan sebagai senjata ampuh dalam mengusir Jepang di Perang Dunia ke II.

Hal itu terbukti, karena Aparat Kepolisian Resort Kabupaten Kampar dan Polda Riau telah mengamankan sejumlah senjata tajam di lokasi bentrok massa terkait perebutan lahan PT Perkebunan Nusantara V.

Informasi kepolisian yang diterima pada Senin malam (21/10/2013), sejumlah senjata tajam tersebut diantaranya tiga bilah parang panjang, tiga pisau, dan satu keris serta satu bambu runcing.

Selain itu, menurut informasi, di lokasi kejadi yakni di Desa Sinama Nenek, Kecamatan Tapung Hulu, Kampar, aparat juga menyita sebanyak 32 bom molotov berisikan bensin dengan sumbu kain, serta satu pucuk senapan angin.

"Seluruhnya sudah kami amankan, bersama dengan 38 orang warga kedua kubu yang terlibat bentrok," kata Kepala Bidang Humas Polda Riau Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Guntur Aryo Tejo lewat ponsel.

Kepolisian menduga senjata tajam dan sejumlah senjata lainnya itu sengaja dibawa oleh massa untuk melukai lawan-lawannya pada kubu bertentangan.

Bentrok antara massa warga setempat dibantu massa organisasi masyarakat dari Pekanbaru dengan karyawan dan petugas keamanan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V terjadi sejak pagi tadi sekitar pukul 09.40 WIB.

Anarkisme massa kedua kubu kemudian berlanjut pada siang hari hingga malam hari, mengakibatkan beberapa diantaranya mengalami luka-luka hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Kepolisian belum dapat memastikan jumlah korban luka dalam peristiwa tersebut. Namun AKBP Guntur memastikan tidak ada korban jiwa dalam bentrok memperebutkan lahan sengketa tersebut.

"Saat ini ada 38 orang massa dari kedua kubu beserta barang bukti telah diamankan dan di bawa ke Polda Riau untuk penyidikan lebih lanjut," katanya.

Menurut Guntur, situasi malam ini di lokasi bentrok pada Desa Sinama Nenek, Kecamatan Tapung Hulu, Kampar telah aman dan terkendali, namun pasukan masih standby di lokasi kejadian guna antisipasi.(fzr)