
PEKANBARU - Akibat bentrok dan kebrutalan massa selama pelaksanaan Kongres Nasional Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-29 di Pekanbaru, banyak fasilitas milik masyarakat Riau hancur. Salah satunya adalah Gelanggang Remaja. Panitia kongres dan panitia masing-masing derah harus bertanggungjawab.
Anggota Komisi A DPRD Riau Sugianto mengaku menyanyangkan anarkis pada pelaksanaan Kongres HMI. Padahal, demi suksesnya kegiatan nasional, pemerintah dan masyarakat Riau telah memberikan fasilitas lengkap dan anggaran memadai. Malah disalahgunakan untuk aksi tawuran.
"Saya sangat menyayangkan terjadinya hal ini. Panitia harus bertanggungjawab atas kerusakan fasilitas milik daerah. Begitupun kepada penanggungjawab masing-masing daerah asal juga harus bertanggungjawab. Biar ada efek jera," kata anggota Fraksi PKB tersebut.
Lanjut Sugianto, sepanjang waktu pelaksanaan kongres masih tetap berlangsung, masing-masing perwakilan daerah dan panitia harus memberikan jaminan tidak terjadi lagi aksi memalukan tersebut. Jaminan itu harus dibubuhkan dalam perjanjian di atas kertas. Dan siap menerima sangsi bila terjadi hal yang sama.
Sebagaimana diketahui, bentrok dan perang batu kembali pecah di arena Kongres HMI di GOR Gelanggang Remaja, Jumat (4/12/2015) dinihari tadi. Aksi brutal ini membuat gedung sejarah pelaksanaan PON XVIII 2012 di Riau porak poranda. Sebelumnya Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Riau juga melaporkan ke polisi, terkait sejumlah fasilitas gedung olahraga tersebut yang hilang.
Padahal, untuk suksesnya pelaksanaan Kongres Nasional HMI ke-29, Pemprov Riau rela merogoh uang rakyat dalam APBD sebesar Rp3 miliar. Bukannya untung, malah masyarakat Riau merasa dirugikan dengan dilaksanakan kegiatan tersebut di daerah ini. ***