
PEKANBARU, GORIAU.COM - Pelaksanaan Hari Pers Nasional 2015 di Batam, Kepulauan Riau, kemarin, merupakan momen penting bari pers Riau. Pasalnya di acara tersebut, bersama 24 buku yang diluncurkan dan diserahkan kepada Wapres Jusuf Kalla terdapat empat tentang Riau, dimana dua buku diantaranya merupakan hasil tulisan para wartawan Riau.
Ketua Panitia HPN 2015 Sasongko Tedjo kepada wartawan menjelaskan bahwa pada tahun ini pihak panitia kembali menerbitkan buku-buku karya jurnalis yang diluncurkan sempena pelaksanakan HPN di Kepulauan Riau. Totalnya ada 25 judul, dan karya wartawan PWI Riau termasuk di dalamnya.''Pada tahun ini ada dua buku karya kawan-kawan dari PWI Riau. Namun sebetulnya ada empat buku, dimana dua buku lainnya yakni tentang kebudayaan Siak ditulis oleh tim PWI Pusat. Kalau tahun lalu PWI Riau cuma satu buku,'' kata Sasongko singkat.Kedua buku dimaksud adalah ''Kutukan Tanah Riau; Sebuah Bunga Rampai Konflik di Mata Wartawan Riau'' yang ditulis oleh 16 wartawan Riau. Antara lain, Dheni Kurnia, Eka Putra, Helmi Burman, Haji Mulyadi, Novrizon Burman, Ahmad Rodhi, Fakhrunnas MA Jabbar, Zulmansyah Sekedang, Candra Dani, Satria Utama Batubara, Novita, Fitri Mayani, Ridha M Haztil, Yanto Budiman Situmeang, Helfizon, dan Eka Buana Putra.Buku tersebut menceritakan betapa Riau adalah sebuah tanah air yang penuh sejarah. Tanah Riau seolah mempunyai magis tersendiri, bahwa sumber kekayaan yang terkandung didalamnya merupakan sumber kesejahteraan bagi setiap pemimpin dan masyarakatnya. ''Namun sebaliknya, bagi pemimpin yang tidak amanah, tamak dan mengabaikan keberlangsungan alam akan menuai petaka. Itulah yang disebut dengan kutukan tanah Riau, yang tidak lain adalah tulisan H Dheni Kurnia dan kemudian dipakai sebagai judul buku,'' ujar Eka Putra, Sekretaris PWI Riau.Sementara buku lainnya adalah karya Eka Putra yang berjudul ''Pers Meredakan Konflik, Bukan Menghebatkannya''. Buku ini merupakan hasil tulisan karya tulisnya selama mengikuti pendidikan reguler Lemhannas angkatan 51 tahun 2014 lalu. Dalam bukunya, Eka menuliskan bahwa salah satu hambatan terbesar dalam pembangunan nasional adalah terjadinya konflik sosial di berbagai wilayah Indonesia. Adalah pers yang diharapkan mampu menjadi pereda dan pengurai bagi setiap potensi konflik di tengah masyrakat. Eka Putra, penulis buku ini mengungkapkan bagaimana kemudian pers Indonesia sudah teruji ikut menjaga keutuhan NKRI. Dan buku ini berusaha memotret dan mengajak insan pers Indonesia untuk turut serta memikul tanggung jawab dalam meredakan konflik, bukan justru menghebatkannya.Sementara itu dua buku lain yang ditulis oleh tim PWI Pusat adalah tentang karya tulis para wartawan nasional yang mengikuti kegiatan Temu Budaya Redaktur Nasional 2014 di Kabupaten Siak. Dan buku satu laginya, tentang perjalanan Temu Budaya Redaktur Nasional selama tiga kali pelaksanaannya yang ditulis oleh Yusuf Susilo Hartono, Ketua Departemen Wartawan Film, Kebudayaan dan Pariwisata PWI Pusat.Setelah HPN 2010, penulisan dan penerbitan buku karya wartawan dan tokoh pers menjadi salah satu agenda wajib dalam setiap peringatan HPN. Pada HPN 2011 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 15 judul buku diluncurkan sedankan tahun berikutnya di Jambi, sebanyak 19 judul buku dirilis pada puncak peringatan HPN 2012. Selanjutnya, pada 2013 di Manado, Sulawesi Utara, dan 2014 di Bengkulu, masing-masing diluncurkan 25 dan 20 judul buku pada puncak peringatan HPN yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.Selain diserahkan kepada Presiden, buku-buku yang diterbitkan dalam rangka memperingati HPN itu dibagikan sebagai cenderamata kepada para delegasi dan undangan yang hadir. Mereka sebagian besar kalangan wartawan dari berbagai daerah di Tanah Air dan para mitra pers.Program penulisan dan penerbitan buku dalam rangka memperingati HPN dimaksudkan untuk mendorong para wartawan Indonesia melahirkan karya tulisan kreatif di luar karya jurnalistik. (rls)