DURI - Perlakuan memilukan terhadap tenagakerja di Mandau, bukan hal yang baru lagi. Ibrahim salah satu korban dari perusahaan sekuriti yang ada di Mandau. Ia dipecat 11 Februari 2016 lalu oleh perusahaannya tanpa mendapatkan pesangon. Padahal ia sudah bekerja diperusahaan tersebut sejak 2003.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, Ibrahim tak pernah menyerah. Untungnya ia masih memiliki keahlian dalam melukis. Bahkan namanya juga masuk sebagai salah satu pelukis di Riau yang sering mengikuti pameran hingga tingkat Nasional.

Saat ditemui GoRiau.com, Kamis (14/4/2016) dikediamannya Jalan Pandega, Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, ayah 3 anak ini tengah menyelesaikan 2 lukisan yang akan dibawanya pada pameran se-Sumatra di Jambi, mewakili Riau.

"Kalau diingat, sedih juga. Kenapa saya diperlakukan tidak adil oleh Perusahaan. Awalnya saya minta ijin untuk berangkat Pameran bersama Dinas Pariwisata Provinsi Riau, itu suratnya resmi disampaikan kepada Perusahaan. Tapi kenyataannya saya ditulis absen. Setelah itu saat terima gaji, ternyata kurang Rp1 juta. Saat saya tanyakan ke managemen, saya malah dapat SP3 dan skors 6 hari," kata Ibrahim.

Diceritakannya, beberapa kali ia sudah menanyakan kepada pihak perusahaan. Namun tidak pernah mendapat jawaban atas pertanyaannya tersebut. Sehingga, memilih untuk melanjutkan hobinya pada bidang seni lukis. Banyak karyanya yang sudah mendapat apresiasi hingga ketingkat Nasional.

"Saya harus tetap berjuang mencari nafkah untuk keluarga, meski sudah diperlakukan tidak adil oleh perusahaan. Anak pertama saya sedang kuliah, dan 2 orang adeknya juga masih bersekolah. Dari mana biaya mereka jika saya tidak segera mencari pekerjaan yang membutuhkan keahlian atau bakat. Kalau mencari pekerjaan di perusahaan saat ini sulit, yang ada hanya PHK dimana-mana," ujarnya.

Dengan teknik melukis yang unik, Ibrahim hampir dibilang tidak pernah menggunakan kuas untuk melukis. Ia menggunakan teknik ujung jari telunjuk untuk membuat gambar yang indah.

"Saya setiap hari datang ke sekolah-sekolah, perkantoran dan pusat keramaian untuk menawarkan jasa membuat sketsa wajah yang harga murah. Dengan Rp50 ribu saja, orang sudah bisa mendapat gambar sketsa wajahnya dari saya. Biar sedikit yang pasti rutin pelanggannya," imbuh Baem lagi.

Tingginya biasa hidup disaat krisis global ini membuat istrinya juga harus produktif mencari penghasilan tambahan. Istrinya disekolahkan menjahit dan kini sudah bisa menerima jahitan dirumah.

"Besar harapan saya kepada pemerintah, agar kami masyarakat yang tidak diterima bekerja di perusahaan migas di Duri, bisa dibantu untuk mengembangkan kemampuan kami. Saat kami di PHK, kami masih bisa mencari nafkah dengan skil yang kami punya, namun kami tidak punya modal besar. Mohon kepada pemerintah agar dapat memberikan pembinaan kepada masyarakat Duri yang terkena PHK," tutup Ibrahim.(*/rha)