
PEKANBARU - Sejarah Kerajaan Siak beserta kehidupan para sultan-sultan terdahulu dipaparkan oleh Bupati Siak, Syamsuar dalam dialog kebangsaan bersama Ketua MPR RI Zulkifli Hasan di gedung Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau.
"Para sultan-sultan di Kerajaan Siak masa itu hidupnya berdampingan dengan berbagai ragam suku dan agama," kata Syamsuar yang menjadi pemateri bersama Anggota DPR RI, Jon Erizal untuk menggantikan Ketua MPR RI, Zulhasan yang harus kembali ke Jakarta, Sabtu (27/1/2018) malam.
Hal itu dapat dilihat dari keragaman suku agama yang masih ada di Siak hingga saat ini. Sejak zaman kerajaan Siak, sudah ada klenteng yang lokasinya tidak jauh dari Istana Siak dan usianya pun sudah mencapai ratusan tahun.
"Selain itu juga ada gereja yang lokasinya tidak jauh dari kerajaan Istana Siak. Ada warga Tapanuli yang masih banyak menetap di Siak. Dari awal kerajaan Siak ini berdiri atau belum lagi Indonesia merdeka, sultan-sultan bisa beradaptasi dengan siapapun," sebut Syamsuar.
Hal lain yang menjadi bukti bahwa Sultan terdahulu itu sangat terbuka atau 'welcome' dengan siapa saja, juga bisa dilihat dari hubungan kerjasama dengan pedagang dari luar negeri yakni Malaysia dan Singapura.
"Artinya, sudah ditunjukkan oleh Sultan ini walaupun dia dari suku Melayu ada juga dari keturunan Arab, tetapi dia tidak pernah ada sengketa antar suku dan agama yang kami dengar. Makanya ini juga yang kami pakai saat memimpin Siak," sebut Syamsuar.
Keanekaragaman agama, kata Syamsuar, sangat dijunjung tinggi. Karena keharmonisan antara suku ini, modal dasar untuk memajukan pembangunan.
"Dan dengan menyatupadukan kekuatan untuk memajukan Indonesia agar kedepannya bisa lebih maju lagi, saya harapkan kita semua tidak terpancing dan isu-isu yang akan memecah belahkan kerukunan umat beragama masuk negara kesatuan negara Republik Indonesia ini," ujarnya lagi.
Dalam dialog kebangsaan bersama Ketua MPR RI ini juga hadir berbagai suku yang ada di Riau tidak hanya Melayu terlihat juga dari suku Bugis suku Jawa suku Batak Suku Banjar suku Minang dan lain-lainnya. ***