PEKANBARU – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Riau, Henny Sasmita Wahid, menyatakan pihaknya turut memanfaatkan momen viralnya fenomena “aura farming” dalam Festival Pacu Jalur di Kuantan Singingi (Kuansing) sebagai peluang untuk mendongkrak promosi budaya dan produk lokal.

Saat ditemui di Perpustakaan Soeman HS, Sabtu (26/7/2025), Henny menyebutkan bahwa peningkatan jumlah wisatawan ke Kuansing mencapai 30 persen setelah viralnya festival tersebut di media sosial. “Ini tentunya dari data yang saya peroleh. Kemungkinan besar pertambahan wisatawan akibat viralnya Aura Farming itu sampai 30 persen,” kata Henny kepada GoRiau.com .

Untuk mendukung promosi budaya lokal, Dekranasda Riau mencetak berbagai suvenir bertema Pacu Jalur, termasuk kaus edisi khusus. Produk tersebut rencananya akan dijual perdana di ajang Car Free Day. “Mungkin diawali dengan jualnya di Car Free Day dulu, sehingga masyarakat tahu. Dan kalau ada turis atau masyarakat yang ingin melihat pacu jalur, mereka punya suvenir khusus,” ujarnya.

Ia juga meyakini Dekranasda Kabupaten Kuansing mengambil langkah serupa. “Saya lihat di beberapa postingan Ibu ketuanya, Ibu Yulia Herma Suhardiman, sedang rapat. Saya yakin pasti akan berkaitan dengan itu juga,” katanya.

Selain memperkenalkan souvenir, Henny mengatakan momen ini juga dimanfaatkan untuk mempromosikan kain tradisional dan wastra Riau kepada wisatawan. “Kita dari pemerintah akan memakai pakaian adat dan macam-macam wastra. Sehingga secara tidak langsung kita juga memperkenalkan wastra Riau ke dunia internasional,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Roni Rakhmat, menyampaikan bahwa Festival Pacu Jalur kini mendapat perhatian dunia berkat viralnya fenomena “aura farming”. Pacu Jalur, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Kebudayaan, kini makin dikenal luas secara global.

“Tentu ini merupakan kebanggaan luar biasa bagi kami, bagi Riau, dan khususnya Kuansing,” ujar Roni, Jumat (4/7/2025).

Ia menyebut fenomena viral tersebut sebagai bukti bahwa budaya lokal memiliki daya tarik universal. “Dampak ekonomis dan pariwisata dari viralitas ini sangat signifikan. Dari sisi pariwisata, Pacu Jalur semakin mengukuhkan posisinya sebagai magnet utama destinasi wisata budaya di Riau, bahkan di Indonesia,” ujar Roni.

Festival Pacu Jalur 2025 dijadwalkan berlangsung pada 20–24 Agustus di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, dan diperkirakan akan menarik kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. ***