Heri Maulizar (19), warga Gampong Keude, Kecamatan Jangka Buya, Pidie Jaya menjadi korban gempa bumi 6,4 skala rifter (SR) kemarin pagi. Pemuda yang bekerja sebagai pelayan caffe di samping SPBU Ulee Glee itu mencerita kisah tragis saat gempa meluluhlantakan kawasan itu.

Peristiwa naas yang menimpanya itu tepatnya pada Rabu (7/12/2016) pagi sekira pukul 05.04 WIB. Di mana, dia masih tidur di sebuah kamar berukuran 3x3 meter di tempat dia bekerja di cafe samping SPBU Keude Ulee Gle, Kecamatan Bandar Dua, Pidie Jaya.
 
Saat masih terlelap, tiba-tiba pemuda memiliki kulit putih itu mendengar suara reruntuhan dan dia sadar akan bencana gempa yang melanda dirinya. Tak pelak, dia pun terperangah ketika sudah berada di bawah reruntuhan bangunan toko.
 
Dia melanjutkan kisahknya, saat itu dia bersama sahabatnya bertiga tidur di sebuah kamar. Namun, usai kejadian Heri tidak tahu kemana dua sahabatnya itu. "Saya tidak tahu lagi kemana teman saya, tapi saya sempat terkurung di bawah reruntuhan‎ tembok selama 8 jam," jelasnya saat ditemui GoAceh, di RSUD Sigli, Kamis (8/12/2016).
 
Tak hanya itu, Heri juga menceritakan sempat mendengarkan teriakan orang-orang yang meminta pertolongan. Namun dia tidak bisa berbuat banyak, karena dia sendiri masih terkurung dalam puing-puing reruntuhan.
 
"Saya tidak bisa bergerak, karena tangan saya terjepit, dan saya pelan-pelan saya mengeruk-ngeruk timbunan beton agar bisa keluar. Akan tetapi usahanya sia-sia dan membuat tanganya terluka. Saya sulit sekali bernafas dan saya pikir sudah tidak ada harapan hidup. Kemudian baru sekitar pukul 12.00 WIB, saya diselamatkan, lalu dirujuk ke RSUD Sigli," paparnya.
 
 
Di benak pemuda itu yang dipikirkan nasib orangtuanya‎ d irumah di Gampong Keude Jangka Buya. Bahkan dia tidak memikirkan keselamatan dirinya sendiri dan yang dia pikir bagaimana kondisi keluarganya di rumah.
 
Sementara ibunda Heri bernama Misna (50) kepada GoAceh menceritakan, setelah kejadian itu mencari dia datang ke Ule Glee di mana tempat anaknya bekerja. Setibanya di sana, Misna menangis terisak-isak, saat memilhat toko tempat anaknya bekerja telah runtuh.
 
"Anak saya tidak ada lagi, ya Allah selamatkan anak saya, saya takut sekali kejadian ini sebab saya tidak tahu berbuat apa," jelas Misna.