PEKANBARU, GORIAU.COM - Berjejer rapi belasan buku dalam kondisi lusuh di bawah teriknya matahari. Solihin bersama anak gadisnya yang tengah duduk di bangku sekolah dasar berusaha mengeringkan lembar demi lembar isi buku catatan sekolah. Meski jumlahnya ratusan, namun Solihin tidak menyerah agar anaknya bisa tetap belajar.

"Jika (buku) tak kering, anak saya tidak bisa belajar mas," ucap Solihin dengan nada pasrah atas musibah angin puting beliung yang menimpa dirinya serta sembilan kepala keluarga lainnya di Kelurahan Tangkerang Timur pada Rabu (20/11/2013) malam.

Hampir semua peralatan rumah tanggan mereka hancur akibat musibah itu. Termasuk buku serta pakaian sekolah anaknya. "Dijemur begitu saja sebenarnya bisa kering, tapi kalau tidak dibalik perlembarnya, nanti waktu kering akan lengket, jika dipaksa tentu akan sobek," lanjut Solihin.

Solihin bersama sembilan kepala keluarga lainnya di RW 8 Kelurahan Tangkerang Timur mengharapkan agar musibah ini bisa dijalani dengan bantuan dari berbagai pihak. "Pihak Dinsos (Pekanbaru) sudah datang ke sini dan memberikan beberapa perlengkapan keperluan kami, termasuk pakaian anak sekolah," ujar Solihin.

Musibah yang melanda Solihin bersama sembilan kepala keluarga lainnya terjadi pada Rabu (20/11/2013) sekitar pukul 20.00 WIB. Terdengar suara gemuruh yang makin lama semakin dekat bunyinya. Tidak lama setelah itu, terdengar hantaman di salah satu rumah warga oleh sebentuk pusaran angin.

Kemudian pusaran angin terus bergerak ke rumah lainnya hingga menyisir setidaknya sepuluh rumah secara berurutan. Meski tidak ada korban jiwa, namun setidaknya kerugian yang diderita sepuluh kepala keluarga tersebut mencapai Rp200 jutaan.

Sebagian korban lebih memilih untuk mengungsi ke rumah keluarga masing-masing yang tidak jauh dari lokasi kejadian. Sementara ada beberapa kepala keluarga memilih tetap berada di rumah dengan mendirikan tenda darurat di sekitaran rumah.

Setidaknya bantuan yang diberikan beberapa pihak terkait, termasuk Dinsos Kota Pekanbaru sudah membantu untuk mengurangi kerugian yang mereka derita. Namun saat ini kesepuluh kepala keluarga tersebut masih mengharapkan aliran bantuan, terutama untuk pembangunan fisik rumah mereka yang dilihat sudah tidak layak huni.

"Rata-rata warga yang terkena musibah ini berasal dari ekonomi menengah ke bawah. Kami sangat berharap bantuan fisik untuk pembangunan rumah mereka bisa diberikan oleh pihak-pihak terkait," ujar Lurah Tangkerang Timur, M Zakir.(tri)