BAGANSIAPIAPI, GORIAU.COM - Suara tangis pilu dan gema syahadat membahana di rumah duka korban kebakaran rumah layak huni yang terjadi di Jalan Pulau Baru Gang Alwaris, Bagansiapiapi, Senin (6/4/2015) malam, yang menewaskan tiga orang kakak beradik Yuni (7 Tahun) Jamal (10 Tahun) dan Rehan (4 Tahun). Tiga keranda mayat kakak beradik berada di beranda depan rumah sebelum ketiganya dikebumikan ke tempat peristirahatan mereka yang terakhir.

Sang ayah, Awaluddin, hanya tertunduk pasrah dan seakan-akan tidak percaya nasib yang dialaminya sepulangnya dari Rokan Hulu untuk mencari nafkah sebagai pencari kayu. Bupati Rokan Hilir, Suyatno, A,Mp merangkul Awaluddin dan berusaha mengingatinya agar selalu tabah dalam menghadapi cobaan itu.

Tanpa sengaja, air mata Awaluddin menetes di hadapan orang nomor satu di Rokan Hilir itu karena tak sanggup menahan beban yang dipikulnya ketika mengingat anak bungsu dan buah hatinya meninggal begitu sangat tragis terpanggang dalam kobaran api yang juga telah menghanguskan rumah tempat istri dan anaknya berteduh selama ini.

Kini, ketiga anaknya sudah tiada. "Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun". Tak henti-hentinya pelayat beristigfar dan mendatangi rumah duka yang merupakan rumah kerabat yang dikenalnya sebagai hunian sementara guna melepaskan kepergian anak kesayangan mereka untuk selama lamanya.

Sementara itu, sang ibunda, Mila tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Ada rasa penyesalan yang teramat dalam mengingat sang buah hati sudah dalam kondisi gosong tak berbentuk. Beban yang teramat berat, membuat Mila sering jatuh pingsan dan sering mengeluarkan bahasa yang membuat orang mendengarkannya tidak bisa membendung air mata.

Tanpa sungkan, Suyatno ikut membentangkan kain menutup ketiga keranda dan mengunci mobil pick up yang akan membawa ketiga kakak beradik itu menuju ke perkuburan Islam di Bagan Hulu. Bupati juga memberikan santunan pribadi kepada keluarga korban untuk mengurangi beban mereka.

Kebakaran besar yang terjadi malam tadi, telah menewaskan 3 anak terpanggang dan juga menghanguskan 6 rumah layak huni (ralat sebelum tertulis 10 rumah).

Api cepat berkobar disebabkan rumah merupakan yang terbuat dari kayu yang mudah terbakar dan menyambar rumah-rumah yang ada disebelahnya. Kebakaran itu terjadi di Jalan Pulau Baru Gang Alwaris, Bagansiapiapi. Proses pemadaman dan penyelamatan korban sedikit terkendala karena jalan menuju lokasi tergolong sempit.

Jerit tangis histeris mewarnai kebakaran hebat dan tak sedikit para ibu rumah tangga jatuh pingsan. Malam kejadian itu, satu persatu jenazah anak yang sudah terbakar hangus, digotong warga dengan menggunakan balutan kain.

''Ya Allah, kami tinggal disini orang susah semua.., apa dosa kami Ya Allah," teriak seorang lelaki di tengah gelap malam di salah satu rumah warga yang dijadikan tempat mengungsi sementara.

Di kegelapan malam, terlihat jenazah terpanggang diatas kasur pegas yang sudah hangus tak berbentuk. Kejadian kebakaran yang ikut memakan korban kakak beradik baru pertama kali terjadi di kota Bagansiapiapi, membuat warga tak sanggup melihat kondisi jenazah korban dan warga pun bertakbir.

Rohani, salah satu pemilik rumah yang berdekatan di lokasi kebakaran, mengungkapkan, pada saat kejadian, warga tidak bisa berbuat apa apa karena api tiba-tiba sudah berkobar.

''Juni, Umal, dan Rehan biasanya saat jam-jam segini masih bermain-main didepan rumah. Entah mengapa malam ini anak-anak itu cepat tidur," kata Rohani meneteskan air mata.

Rumah Rohani saat ini dijadikan warga sebagai tempat ketiga jenazah anak yang terpanggang. ''Coba cari anak yang lain. Apakah masih ada yang hilang,'' teriak salah seorang warga untuk memastikan apakah masih ada korban yang lain.

Diantara tiga korban kakak beradik, salah seorang anak diketahui bernama Yuni sedang dalam kondisi mengendarai sepedanya. Sepeda dan dirinya sudah dalam keadaan gosong. Alangkah sedih warga melihat kondisi Yuni saat itu karena mereka tahu, dia sangat menyayangi sepedanya semasa hidupnya. (amr)