PEKANBARU - Meski sudah tidak terikat hubungan suami istri, pria dan wanita di Kota Pekanbaru, Riau, ini tetap kompak menjadi pengedar narkoba. Bahkan, mantan suaminya itu bisa mengendalikan peredaran narkoba dari dalam Lembaga Permasyarakatan (Lapas).

Dua orang itu ialah seorang wanita berinisial Y, dan seorang lelaki yang merupakan narapidana di Lapas, berinisial T. Kedok dua orang itu terungkap pada hari Kamis (19/2/2021) lalu, oleh Tim Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Pekanbaru.

Pengungkapan berawal dari informasi yang diperoleh Tin BNBK Pekanbaru, kalau ada transaksi narkoba di Jalan Satria, Gang Keluarga, Kecamatan Tenayan Raya. Dari informasi itu, tim BNNK Pekanbaru langsung melakukan penyelidikan, dan mendatangi lokasi kejadian. Disana, Tim melakukan penggeledahan di salah satu rumah yang dihuni oleh tersangka Y.

Benar saja, didalam rumah itu, tim menemukan sabu yang disimpan di atas lemari pakaian tersangka Y. Selain itu, ada juga beberapa paket sabu yang siap diedarkan, dan beberapa alat yang biasa digunakan pengedar narkoba berupa handphone, timbangan digital, dan plastik pembungkus sabu.

"Dari penangkapan Y, tim melakukan pengembangan, dan akhirnya Y mengakui kalau dia bekerjasama dengan seseorang berinisial T, yang merupakan mantan suaminya yang berada di salah satu Lapas," ujar Kepala BNNK Pekanbaru, Febri Firmanto, Selasa (23/2/2021).

Selanjutnya kata Febri, total barang bukti yang disita dari tersangka Y, sebanyak 499,64 gram, narkotika jenis sabu. Tersangka Y juga mengaku, kalau dia sudah 1 sampai 2 kali diperintahkan menjemput barang dititik yang sudah ditentukan oleh tersangka T.

"Jadi setelah barang dijemput di suatu tempat, lalu dibawa ke rumah. Pengakuan Y dia juga mengonsumsi barang (sabu) tersebut. Selain itu juga mengedarkannya," lanjut Febri.

Darimana barang haram itu diperoleh, hingga saat ini BNNK Pekanbaru masih masih melakukan pendalaman lebih lanjut.

Lebih lanjut kata Febri, tersangka T ini tahun 2018 dijatuhi hukuman 10 tahun. Sudah menjalani 2 tahun, dengan kasus narkotika.

Sementara untuk upah yang dijanjikan, tersangka Y dijanjikan upah Rp1 juta per satu paket berat 1 ons. "Tersangka T pengakuannya juga dapat upah, tapi dibagi dengan Y. T dapat Rp500 ribu dan T Rp1 juta," tutupnya. ***