PEKANBARU – Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Riau, Dr. Sigit Nugroho, M.Psi, mengungkapkan pandangannya terkait kinerja Pemda Riau selama 4 tahun dibawah kepemimpinan Syamsuar-Edy Natar. Penuh prestasi atau kepalsuan?

Menurut Sigit Nugroho, kondisi yang terjadi saat ini merupakan kebalikan dari impostor syndrome, di mana pejabat merasa telah bekerja maksimal, sementara rakyat tidak merasakan manfaatnya.

"Dalam psikologi kondisi ini yang disebut sebagai The Dunning-Kruger Effect, kondisi di mana seseorang merasa overconfidence dengan apa yang telah dikerjakannya," ujar Dr. Sigit kepada GoRiau.com, Sabtu (15/4/2023).

Sigit menilai, kondisi overconfidence ini dibumbui dengan bukti-bukti yang hasil dari rekayasa, seperti kasus jual beli status WTP oleh BPK yang baru-baru ini mencuat.

Ia menegaskan bahwa masyarakat dan pejabat perlu bergerak ke area yang lebih objektif dan kritis, serta segala kepalsuan harus dibongkar.

"Ukuran kinerja tidak boleh dengan perasaan, atau dasarnya harus jelas dan terukur. Ketidakpuasan publik harus diserap dan dimengerti untuk selanjutnya diselesaikan dan dicari solusinya," tambah Dr. Sigit.

Ia juga menyoroti proyek-proyek konstruksi, infrastruktur, pendidikan, bansos, dan proyek-proyek lainnya yang dianggap tidak transparan. Dr. Sigit berharap pemerintah bisa lebih jujur dalam menjalankan proyek-proyek tersebut demi kesejahteraan rakyat.

"Lantas kapan kondisi ideal itu terwujud? Saat pemerintah jujur terkait proyek-proyek yang dibuat baik di bidang konstruksi, proyek infrastruktur, proyek pendidikan, proyek bansos, dan proyek-proyek yang rakyat tidak tahu nama-namanya saking terlalu banyak,'' tutupnya . ***