
RIYADH – Maulid Nabi atau tanggal lahirnya Nabi Muhammad SAW dirayakan secara meriah setiap tahun di Indonesia. Berbeda dengan di Arab Saudi, di negara tempat lahir Rasulullah SAW tersebut justru tidak ada perayaan Maulid Nabi.
Dikutip dari detiktravel, meski secara resmi tidak merayakan Maulid Nabi, namun Pemerintah Kerajaan Arab Saudi tidak melarang warganya untuk merayakan Maulid Nabi. Sehingga, di wilayah barat Saudi, Hijaz, umat Islam merayakan dengan sederhana.
"Kami merayakan secara sederhana dengan mendengar pembacaan riwayat Nabi dan mendengarkan puji-pujian untuk Nabi yang tertulis dalam bentuk syair atau prosa dari berbagai sumber terdahulu," tutur salah satu tokoh agama Islam di Hijaz, Usama Al-Kubaisi, seperti dikutip dari Arab News.
"Karena membaca teks prosa bersama-sama itu membosankan, kami bersama-sama membaca puisi, membacakan doa kepada Nabi, dan mengingat sifat-sifat akhlaknya serta keberkahan risalahnya," imbuh Usama Al-Kubaisi.
Lalu, mengapa tak ada perayaan resmi Maulid Nabi Muhammad SAW di Arab Saudi?
Kerajaan Arab Saudi tidak secara resmi merayakan Maulid Nabi Muhammad karena perbedaan pemikiran sesuai mazhab dan ajaran resmi negara tersebut.
Mazhab resmi yang diyakini oleh Arab Saudi adalah Hambali, namun citra negara ini tidak lepas dari ajaran Salafi-Wahabi.
Wahabi merupakan ajaran yang berpegang pada Al-Quran-hadis, yang ingin memurnikan Islam seperti di zaman Nabi Muhammad dan tiga generasi setelahnya.
Larangan akan perayaan Maulid Nabi sempat disampaikan oleh seorang mufti agung, Syekh Abdul Aziz Al-Asheikh, yang mengatakan bahwa itu adalah praktik takhayul yang dimasukkan secara ilegal ke dalam agama, dikutip dari Arab News.
"Itu adalah biddah (inovasi agama yang berdosa) yang masuk ke dalam Islam setelah tiga abad pertama ketika para sahabat dan penerus para sahabat masih hidup," ungkap Syekh.
Menanggapi tindakan Arab Saudi, seorang pakar kajian Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Sya'roni Rofii, menilai bahwa ajaran Wahabi sangat ketat dan menolak berbagai inovasi karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam atau dianggap biddah.
"Saudi dengan Wahabinya sangat ketat dan menolak segala bentuk akulturasi Islam dan kebudayaan (biddah)," kata pakar kajian Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Sya'roni Rofii, beberapa waktu lalu.
Wahabi melekat dalam diri Saudi karena pendiri paham ini, Muhammad bin Abdul Wahhab, berkontribusi dalam membangun negara teokrasi atau berbasis agama dalam hal ini Islam.
Berbeda dengan di Indonesia, Maulid Nabi Muhammad SAW dirayakan oleh hampir semua umat Islam. Di Beberapa tempat Maulid bahkan dirayakan meriah. Maulid Nabi juga dinyatakan sebagai hari libur nasional oleh pemerintah.***